Header AD

Naturalisasi Ilmu Pengetahuan Ke Dalam Islam



                                 

Oleh: Rizky Ms

Proses Naturalisasi Ilmu Pengetahuan terjadi dimana saja dan kapan saja sepanjang sejarah perkembangan ilmu. Ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya sains muncul berkembang dan terus berkembang melalui transmisi dari peradaban satu ke peradaban lain. Ketika suatu peradaban muncul, biasanya ia akan melakukan peminjaman, pengambilan, pembangunan, hingga kepada aneksasi ilmu pengetahuan dari peradaban yang lebih dahulu muncul.

Ilmu Pengetahuan merambat, bertransmisi, berkembang, berevolusi mengikuti perkembangan peradaban yang eksis dimuka bumi. Setiap memasuki peradaban dengan pandangan hidup (worldview) yang berbeda, ilmu pengetahuan mengalami proses adaptasi dan adopsi sesuai dengan peradaban yang mengambilnya.

Pada awalnya ilmu yang berkembang di dalam agama Islam ialah hanya ilmu agama. Namun sejak Islam menyebar pertama kali ke seluruh jazirah Arab, Rasulullah sudah menyuruh para sahabat untuk mempelajari ilmu terutama baca dan tulis.  Setelah wilayah Islam mengalami perluasan setelah sepeninggal Nabi Muhammad yaitu zaman khulafaur Rasyidin dilanjutkan Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah dan daerah-daerah yang jatuh kepada tangan kaum Muslimin yaitu Damaskus tahun 4 H, seluruh Syam dan Irak pada tahun 17 H, Mesir hingga ke daerah Barat sampai Maroko pada tahun 20 H, Parsi pada tahun 21 H. Dalam tempo kurang lebih 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, Kaum Muslimin mampu menaklukan seluruh Jazirah Arab dari Selatan hingga Utara. 

Ekspansi dakwah yang disebut (Futh al-Buldan) ini berlangsung pesat dan tidak terbendung. Satu per satu kerajaan dan kota demi kota berhasil ditaklukan dan dianeksasi. Sehingga tidak sampai satu abad, pada 750 M, wilayah Islam telah meliputi hampir seluruh jajahan Alexander the Great di Asia dan Afrika Utara, (Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko), Mencakup Mesopotamia (Irak), Syiria, Palestina, Persia, Mesir, juga semenanjung Liberia (Spanyol dan Portugis) dan India. Dalam waktu setengah abad setelah hijrah, Islam telah membentang dari Teluk Biskaya di sebelah Barat hingga ke Turkistan dan India, melebihi imperium Romawi pada puncak kejayaannya.

Dengan wilayah kekuasaan seluas itu, peradaban Islam berkembang dan berinteraksi dengan bangsa, agama, dan peradaban lain. Kaum muslimin bersentuhan dengan kaum Yahudi, Nasrani, Majusi, Bangsa Yunani, Romawi penganut lainnya yang berbeda cara pandangan terhadap dunia Worldview.

Sebagai salah satu contoh Naturalisasi keberanian yang dilakukan adalah oleh Khalifah Abu Ja’far Abdullah Al-Manshur (735-775) telah mempekerjakan para penerjemah yang menerjemahkan buku-buku kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat dari bahasa Yunani, Parsi dan Sansekerta. Disusul oleh Kekhalifahan Al-Maimum ibn Harun al-Rasyid (813-832) pada tahun 830 M beliau mendirikan Darul Hikmah atau dikenal Akademi Ilmu pengetahuan pertama di dunia, terdiri dari perpustakaan, pusat pemerintahan, observatorium bintang dan universitas (Darul Ulum). Bahkan fakultas kedokteran telah didirikan pada tahun 765 M Jurjis ibn Naubakht. Dari proses interaksi tersebut, kaum muslimin pun terdorong untuk mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya. Dimulai juga dengan menerjemahan karya-karya ilmiyah dari bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syiriac) ke dalam bahasa Arab.

Sehingga dari hasil penerjemahan kaum Muslimin, berkembanglah Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh pemikiran dan karya kaum muslimin itu sendiri dan dari hasil pengetahuan yang mereka pelajari dari peradaban lain. Dari Beberapa karya asing dari filsafat Yunani yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dibuang, begitupun dengan hal-hal yang positif dan sejalan dengan Islam dipertahankan, dilestarikan dan dikembangkan sehingga mampu menjadikan peradaban kaum Muslimin yang cepat maju melesat kian kilat.

Senada dengan hal itu Seyyed Hossein Nasr mengatakan “Bahwa didalam Naturalisasi ilmu dari pemindahan, juga ada masa pengunyahan pencernaan, dan penyerapan, yang juga berarti penolakan. Tidak ada pernah Sains yang diserap ke dalam sebuah peradaban tanpa penolakan sedikitpun. Mirip dengan tubuh kita. Kalau kita cuman makan saja, tetapi badan kita tidak mengeluarkan sesuatu, maka dalam beberapa hari saja, kita akan mati. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus dibuang.

Dari gambaran potret sejarah tersebut sudah saatnya para pelajar berfikir kedepan untuk senantiasa melibatkan dirinya dalam menemukan gagasan-gagasan baru, memberikan daya sokong, kekuatan daya Tarik untuk memberikan kecerahan bagi umat Islam dan peradaban Islam yang kita damba-dambakan.


Dikutip dari Buku Islamisasi Sains

           


*Alumni Ma’had Nurul Hidayah



Naturalisasi Ilmu Pengetahuan Ke Dalam Islam Naturalisasi Ilmu Pengetahuan Ke Dalam Islam Reviewed by Ahsanulqurun on April 11, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads