Header AD

Menjelang Ramdhan, Puasa Bicara




Oleh Anja Hawari Fasya

Allah Swt dengan segala sifat yang Maha Paripurna telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. "Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya". (QS. At-Tin :  4) 

Salah satu kesempurnaannya, Allah Swt menciptakan telinga sebagai anggota tubuh bagi kita semua. Di dalam kitab Bidayatul Hidayah, imam Ghazali menjelaskan bahwa telinga diciptakan sebagai pintu masuk utama agar hidayah bisa sampai ke hati, bagi imam Ghazali bukan hanya mata yang mampu buta dari melihat hidayah, telinga sekalipun bisa menjadi tuli tidak bisa mendengar hidayah. Maka dari itu memelihara telinga dari ucapan-ucapan kotor, tidak berfaidah, haruslah senantiasa dihindari.

Di sisi lain, Allah Swt menciptakan dua telinga dan satu mulut secara tersirat memberikan pesan moral kepada kita supaya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Baiknya, di tengah padatnya aktivitas dan bisingnya kehidupan kita belajar berpuasa bicara, mengurangi suara mulut. Jika mulut terlalu banyak bicara, kita tak akan sanggup mendengar suara hati. Dalam Al-Quran dikisahkan Siti Maryam A.s pernah berpuasa bicara, suatu ketika Maryam hilang dari kampung halamannya dan setelah sekian lama Maryam datang dengan seorang bayi, orang-orang bertanya " Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" (QS Maryam 19 : 28-29).

Siti Maryam diperintahkan Allah untuk berpuasa bicara. Ia disuruh untuk tidak menanggapi tuduhan macam-macam itu, Maryam hanya menjawab "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".  ( QS 19 : 26)

Tafsir Al Wajiz karangan Syaikh Wahbah az Zuhaili menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut ialah Maryam tidak berbicara dengan manusia agar dapat beristirahat terhadap ocehan mereka. Ketika itu, sudah masyhur, bahwa diam termasuk ibadah yang disyari’atkan. Maryam tidak diperintahkan menjawab manusia ketika itu untuk membela dirinya, karena manusia tidak akan membenarkannya, dan lagi tidak ada faidahnya.

Melihat ini, penulis sepakat apa yang telah dikatakan oleh filsuf Iran Sayyid Haidar Amuli, bila kita terlalu banyak bicara, kita takkan mampu mendengarkan isyarat gaib yang datang kepada kita. Suara mulut tak sanggup mendengar kata-kata hati nurani. Suara mulut kita terlalu riuh sehingga isyarat-isyarat dari alam malakut tak terdengar oleh batin kita. Kita terlalu banyak mendengarkan suara kita sendiri.

Menjelang bulan Ramadhan ke depan, baiknya selain berlatih menahan lapar dan haus, kita juga belajar puasa bicara, maksudnya kita belajar meninggalkan kata-kata kotor, menyinggung perasaan orang lain, dan perkataan yang tidak berfaidah.

Nabi Muhammad bersabda "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari)
Sedemikian adanya, sedemikian baiknya.


Menjelang Ramdhan, Puasa Bicara Menjelang Ramdhan, Puasa Bicara Reviewed by Ahsanulqurun on April 12, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads