Header AD

Kedudukan & Peran Wanita Dalam Islam




       A.    PENDAHULUAN
إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نستهديه, و نعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له, وأشهد ألا إله إلا الله و حده لا شريك له, و أشهد أن محمدا عبده ورسوله, أما بعد
Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah mencipatakn manusia dengan dua jenis berbeda pria dan wanita ( ( وانه خلق الزوجين الذكر والأنثى, dan telah menjelaskan bagi para hambanya metode pendidikan yang benar di dalam Al-Quran yang mulia serta menerangkan kepada alam semesta prinsip-prinsip kebajikan dan petunjuk serta perbaikan di dalam hukum-hukum syariat Nya yang lurus.
Shalawat beserta salam kepada Nabi Muhammad   yang telah Allah utus untuk menjadi tauladan dan pendidik bagi manusia. Satu-satunya Nabi yang berhak memberi syafaat kepada kita selaku umat nya di akhirat kelak, maka jadikan amalan sunnah beliau sebagai kebiasaan di dalam hidup kita dan semoga kelak Nabi Muhammad berkenan untuk memberi syafaat nya kepada kita.
Shalawat dan salam semoga juga selalu tercurah kepada keluarga, sahabat serta istri-istri beliau, dimana para Ummahatul Mukminin adalah wanita-wanita yang paling berhak untuk menjadi kiblat tauladan bagi para muslimah. Merekalah contoh riel dari gambaran wanita shalihah, maka baca sejarah mereka karena sungguh hanya goresan emas yang memenuhi kisah mereka.
         1.  Latar Belakang Masalah
Perjalanan panjang sejarah islam tidak lepas dari kontribusi kaum muslimah, sebab tidak sedikit kontribusi mereka  yang telah terabadikan. Kitab-kitab sirah yang mengupas kehidupan generasi sahlihah terdahulu telah menjadi prasasti sejarah yang membuktikan sumbangsih para muslimah bagi kejayaan dien dan dakwah islam di seluruh penjuru bumi.
Akan tetapi musuh-musuh islam tahu dengan baik bahwa muslimah merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat muslim. Oleh sebab itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk melumpuhkan pergerakan para muslimah dan menjerumuskanya ke dalam lembah fitnah. Sebagaimana perkatan Syaikh Muhammad Hassan yang kami nukil dari kata pengantar beliau dalam kitab As-shohabiyat haula rasul, beliau berkomentar tentang tindakan musuh-musuh islam “ Dia melemparkanya ke dalam sungai dengan tubuh yang terbelenggu lalu berkata, hati-hatilah.....,hati-hatilah...., jangan sampai tubuhmu basah”. Ini adalah gambaran dari propaganda yang di lakukan oleh musuh-musuh islam, mereka menyatakan bahwa persoalan muslimah harus dibicarakan dan dibahas kembali untuk mendapat pembelaan. Dengan alasan, selama ini muslimah terdzalimi. Mereka melancarkan serangan terhadap pemakaian jilbab. Mereka menyeru “ lepaskanlah diri dari belenggu”. Dari hal-hal yang mereka bicarakan seakan akan wanita di dalam agama islam adalah orang yang paling di kekang, di rendahkan bahkan terhinakan.
Namun mirisnya propaganda busuk yang di lancarkan oleh mereka berhasil merasuki banyak kalangan muslim sendiri baik laki-laki maupun perempuan. Dan pada puncaknya para muslimah kehilangan tauldan, mereka hidup seakan mencari peran. Mereka lupa bahwa hanya agama islam yang telah memberikan kedudukan mulia kepada para wanita. Dari tangan merekalah sebuah generasi baru akan muncul, maka sungguh malangnya ketika mereka  berkata “ sudahlah wanita itu hanya memiliki 3 peran, dapur, kasur dan sumur”, sebuah pemikiran kerdil kemudian melahirkan orang-orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu lagi. Padahal merekalah salah satu poros penting dalam kebangkitan islam.
Oleh karena itu penulis pada kesempatan kali ini ingin mengelupas sedikit peran dan kedudukan muslimah dalam islam. Dengan harapan para muslimah dapat mengetahui bahwa mereka berharga bagi umat dan agama ini.
        B.     PEMBAHASAN
Sebelum kita membahas peran wanita di dalam islam sebaiknya kita mengetahui siapa wanita dan bagaimana Al-quran dan sunnah berbicara tentang kedudukan wanita.
        1.      Pengertian Wanita
Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk manusia yang berjenis kelamin atau bergender perempuan. Lawan jenis dari wanita adalah pria atau laki-laki. Wanita adalah panggilan umum yang digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa. Sapaan yang lebih sopan ataupun panggilan untuk wanita yang dihormati adalah "ibu". Anak-anak kecil berjenis kelamin atau bergender perempuan biasanya disebut dengan "anak perempuan". Perempuan yang memiliki organ reproduksi yang baik akan memiliki kemampuan untuk mengandung, melahirkan dan menyusui.
         2.   Al-Qur'an dan sunnah berbicara tentang kedudukan dan kemulian wanita
Allah berfirman :
يايها الناس اتقوا ربكم  الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها................
Dalam ayat ini (An-Nisa :1) sesungguhnya seorang wanita sebagaimana seorang laki-laki, dimana mereka di tuntut untuk bertakwa kepada Allah dengan menaati segala perintahnya dan menjauhi larangan nya. Di sini kita dapat melihat bahwa kalimat perintah atau di sebut dengan khitab yang Allah gunakan kepada wanita sama dengan yang yang ditujukan Allah kepada laki-laki. Sehingga kewajiban secara syar’i mencakup aqidah, ibadah dan muamalah seperti halnya laki-laki. Kecuali beberapa hal yang sudah di batasi dengan tabiat dari wanita itu sendiri atau dengan tidak adanya kemampuan atas suatu perintah.
Rasulullah Bersabda :
إنما النساء شقائق الرجال
( Sesungguhnya wanita itu hanyalah saudara kandung kamu pria )
Hadist ini di sebutkan oleh Abu Abdillah bin Ahmad Al-Isawi dalam kitab Fiqih Sunnah Lin Nisa, setelah beliau menyebutkan Quran surah ( An-Nahl : 97 ). Dalam hal ini beliau ingin menyampaikan bahwa ganjaran yang diteriam oleh wanita ketika beramal shalih sama sebagaimana amalan shalih yang di kerjakan oleh para laki-laki.
Satu ayat dan hadist di atas cukup untuk menjelaskan bahwa dalam islam tidak pernah ada intimidasi terhadap para wanita. Maka hanya kedustaan besar yang dilancarkan oleh musuh islam yang mengatakan bahwa wanita adalah paru-paru yang tidak berfungsi, mereka tidak mendapat hak-haknya, karena laki-laki telah mendominasi dalam seluruh sendi kehidupanya. Sungguh, islam tidak pernah memandang wanita dengan sebelah mata, karena tidak ada yang pernah memberikan kedudukan yang terhormat kepada wanita kecuali islam. Dalam peradaban Yunani, Romawi, India, Yahudi dan Arab Jahiliyah , wanita dipandang hanya sebagai bakteri yang tidak layak untuk sekedar hidup.
        3.   Peran wanita dalam Islam
Peran wanita dalam islam, atau bisa kita sebut dengan tugas wanita secara syari’i. Jika kita berbicara tentang tugas maupun peran wanita dalam islam maka kita akan berbicara tentang dua hal, yang pertama adalah ranah dalam rumah kemudian yang kedua ranah di luar rumah. dari dua hal ini penulis mengambil kesimpulan dari analisis kami bahwa, peran wanita di luar rumah sangat berkaitan erat dengan peran mereka di dalam rumah. Salah satu alasanya adalah, karena jika kita melihat dalam sejarah sangat sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada wanita yang ikut andil dalam kegiatan dakwah, maupun yang lain, sebelum menikah.
Wanita sebelum mereka menikah maka ilmu lah yang menjadi sorotan utama untuk mereka dapatkan, dengan syarat-syarat yang di tentukan oleh para ulama berkaitan tata cara menuntut ilmu bagi para wanita. Tugas utama mereka adalah menjaga ketatan kepada Allah dan Rasul nya, dia juga selalu menjaga kesucian dan kehormatan nya karena dari Rahim yang suci itu akan terlahir generasi Rabbani yang akan berguna untuk kejayaan islam.
Maka pada kesempatan kali ini titik fokus kami adalah peran wanita di luar dan di dalam rumah bagi wanita yang sesudah menikah.
       a.  Peran wanita di luar rumah
Sebagaimana yang telah kami sampaikan di latar belakang masalah, banyak wanita pada saat ini merasa bahwa mereka tidak memiliki peran yang begitu berarti di dalam masyarakat, sehingga timbul sebuah ungkapan “ wanita itu Cuma di 3 tempat : dapur, kasur dan sumur”. Padahal mereka juga bisa memiliki peran dalam masyarakat, kenapa kami katakan bisa karena memang tugas utama mereka adalah di dalam rumah. Kami akan menyebutkan beberapa peran yang bisa di lakukan oleh wanita di luar rumah.
       I               Peran wanita dalam penyebaran Ilmu dan Agama Islam
Melihat kondisi umat saat ini yang sangat membutuhkan tarbiyah, maka peran wanita juga sangat di butuhkan untuk ikut andil dalam tarbiyah ini. Dan hal ini pula sebenarnya telah di contohkan oleh para wanita salaf, sahabiyah dan Ummahatul mukminin pada zaman dahulu, Sebagaimana Khadijah istri Rasul    dalam membantu Beliau untuk berdakwah. Peran seorang Khadijah sangar besar, dengan cara memberi dukungan penuh kepada suami dalam misi penyebaran agama islam, tidak hanya itu khadijah juga ikut mendakwah kan agama Islam kepada kerabat terdekatnya untuk masuk ke dalam agama yang mulia ini.
Begitu juga dengan Para Ummahatul mukminin yang lain, seperti Aisyah yang sering di tanya tentang kehidupan dan pribadi Rasul , maka Aisyah termasuk salah satu periwayat hadist terbanyak. Tidak sedikit pula para ulama salaf dahulu berguru kepada ulama-ulama wanita yang ahli pada bidangnya, seperti Imam Shuyuthi yang juga memiliki guru dari kalangan wanita.
Sungguh sebenarnya dalam sejarah islam peran wanita dalam penyebaran ilmu dan Agama Islam sangat besar. Maka para wanita pada zaman ini bisa untuk mengadopsi peran yang telah di lakukan oleh wanita-wanita terdahulu, dengan syarat mereka telah mengetahui dan menjaga hak-hak serta kewajiban mereka.
    II.              Peran  Wanita dalam Sosial
Salah satu peran wanita dalam hal sosial, seperti membuka pintu rumahnya atas izin suami untuk membantu sesama muslim. Hal ini sebagaimana yang di contohkan oleh khadijah, beliau memerintahkan kepada pembantunya untuk tidak menutup pintu rumah kepada orang miskin, baik itu siang maupun malam. Beliau juga suka menolong kerabatnya yang kesulitan dalam hal keuangan, bahkan membantu kerabatnya yang ingin menikah namun tidak mempunyai dana.  
Peran wanita dalam hal sosial sebenarnya bisa di lakukan oleh wanita muslimah pada saat ini dengan mudah, apalagi sekarang segala sesuatu bisa di dapat dengan mudah. Untuk mengirim bantuan kepada orang yang sedang terkena musibah di tempat yang jauh pun sekarang sudah banyak yang memberi fasilitas baik dari yang sifatnya umum hingga dari ormas-ormas tertentu.
        b.   Peran Wanita  dalam Rumah
Dalam sebuah buku yang berjudul Al-mukminah As-shadiqah, di sebutkan bahawa wanita muslimah yang berhasil adalah yang selalu menaati suami dalam kebenaran, yang dapat menanamkan ketaatan kepada Allah terhadap anak-anaknya, dan menjadi manager yang baik untuk keluarga nya. Di bawah ini adalah beberapa peran wanita di dalam rumah :
1)           Peran sebagai isteri
Pengkajian dan penelitian yang mendorong wanita untuk menuntut hak-haknya yang telah di tetapkan oleh syariat. Akibatnya, intensitas ketegangan dalam kehidupan rumah tangga pun meninggi. Jelas, semua itu akan menghalangi para wanita muslimah untuk menjalankan tugas-tugas yang telah di tetapkan. Dan pada akhirnya, mereka akan tersesat dan terhempas ke jurang kesulitan yang amat dalam.
Fenomena saat ini, banyak wanita muslimah yang memiliki setatus sosial serta posisi manajerial yang tinggi : direktur, pemimpin atau pegawai biasa. Pada dasarnya hal ini bukan masalah asal selama dirinya memahami betul peran dan fungsinya di tengah-tengah keluarga.
Ketahuilah seorang wanita di ciptakan bukan untuk menjadi seorang pegawai, sekertaris atau bahkan bintang iklan. Sungguh wanita lebih dari itu, wanita di ciptakan agar laki-laki (kami maksudkan adalah suami) merasa tentram dan nyaman jika di dekatnya, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firmannya QS: Ar-rum 21. Rasa tentram dan nyaman sebagaimana yang telah di contohkan oleh Khadijah istri Rasul , yang bisa memberikan rasa nyaman ketika Beliau mendapat wahyu untuk yang pertama kali, Khadijah juga dapat memberikan semangat bahkan dukungan penuh terhadap suami nya dalam dakwah nya. Dan Ummul Mukminin Khadijah sanggup untuk menyelipkan rasa tenang kepada Rasul ketika beliau menceritakan semua kejadian yang membuatnya takut, sebuah kalimat yang luar biasa dari seorang istri shalihah “ Demi Allah, Allah tidak akan pernah menuia-nyiakanmu”. 
Isteri yang baik adalah teman yang rela berkorban, tidak pernah menyerah dengan perasaanya yang bersifat sesaat, orang yang dapat di percaya dan juga dapat memenuhi segenap tanggung jawab dan kewajibannya serta memahami kewajiban dan tugas-tugas suami. Maka dengan demikian dia telah memberikan pelajaran istimewa terhadap anak laki-laki dan terkhusus anak permpuan.
              Peran sebagai ibu
“ Di balik setiap tokoh yang hebat terdapat seorang perempuan (ibu) “ sebuah kalimat yang sudah sangat masyhur di telinga kita. Pada kesempatan kali ini kami akan setuju dengan perkataan Napoleon Boneparte di atas.
Menjadi seorang ibu, menurut kami adalah sebuah Awesome job sesuatu yang agung dan mulia dengan syarat, seorang ibu mendidik anak berdasarkan kriteria-kriteria islam dan kemanusian serta timbangan ketakwaan dan keutamaan. Peran seorang ibu jauh lebih penting ketimbang peran ratusan guru dan pendidik sekalipun, mengingat betapa berpengaruhnya ibu dalam pembentukan sifat, watak, dan akhlak anaknya. Surga akan berada di bawah telapk kakinya apabila seorang ibu berusaha keras dan mencurahkan segala perhatian dalam mendidik dan menghasilkan generasi yang shalih.
Sungguh kami katakan melahirkan bukanlah hal yang mudah, namun menjadi seorang ibu jauh lebih sulit. Banyak wanita yang sanggup menunaikan tugas mengandung, namun sebutan ibu belum pantas bagi mereka.
Maka ada beberapa karakter yang harus di miliki oleh seorang wanita sebelum memainkan peran sebagai seorang ibu :
   -) Sosok yang memiliki cita agama tanpa syarat, yaitu adalah jiwa juang dan rela berkorban
  -) Memiliki pribadi dan akhlak yang agung ( untuk menjadi teladan kehidupan bagi anak-anak “the role model”).
  -) Dapat mengenali dirinya dengan baik.
Jika para wanita muslimah memiliki karakter tersebut, kemudian dia mencurahkan segala kemampuan untuk mencetak generasi rabbani. Maka bukan hal yang tidak mungkin kita akan menemukan sosok seperti ibu imam Syafi’i atau ibu imam Bukhari, para wanita muslimah ini akan melahirkan para aktivis-aktivis pemikir islam dan mujahid-mujahid yang tulus.
          Peran sebagai pengatur rumah tangga ( manager )
Pada dasarnya, seorang wanita diciptakan untuk memikul tanggung jawab pengaturan keluarga dan pendidikan anak. Seorang wanita harus merasa bangga dan tersanjung kalau dirinya sanggup memainkan peran manager di dalam kehidupan rumah tangga.
Pengatur yang baik, akan menghasilkan suasana yang baik pula di dalam rumah bagi anggota keluarga. Seorang manager yang cerdas dan bijak harus bisa menjadikan rumahnya berbalut perasaan cinta, saling memahami, ketenangan, kebajikan dan ketulusan. Dalam kapasitasnya menjadi seorang manager di dalam rumah tangga wanita memiliki berbagai kewajiban yang harus di jaga. Dan kewajiban terpentingnya adalah mendidik anak, dalam menunaikan kewajiban tersebut seorang manager harus menjaga prinsip-prinsip berikut:
          a.)    Mengatur rumah
Rasulullah bersabda : “ perempuan adalah pemimpin dalam rumahnya dan yang bertanggung jawab terhadap semua yang dipimpinya”. Rumah yang nyaman dan tenang sejatinya adalah tempat paling strategis untuk mendidik seorang anak.
        b.)    Ekonomi rumah tangga
Salah satu tanggung jawab pemimpin rumah tangga adalah berkenaan dengan keadaan ekonomi keluarga. Diantara faktor penting dalam hal pengaturan rumah tangga adalah menghindari kehidupan mewan dan serba gemerlap.
          c.)  Keteladanan
Pemimpin rumah tangga merupakan sumber keteladanan bagi segenap anggota keluarga. Terlebih bagi anak-anak yang memang suka meniru kelakuan orang tuanya, kepribadian seorang pemimpin rumah tangga sangat berpengaruh tehadap pertumbuhan dan prilaku anak-anaknya.

         C.    KESIMPULAN
  Seorang wanita di dalam islam sungguh memiliki kedudukan yang mulia, tidak ada satupun syariat dalam agama ini yang mengintimidasi para wanita.
  Wanita yang belum menikah, maka hal yang paling penting baginya adalah ilmu dan menjaga diri dan kesuciannya. Karena dari rahim yang suci akan melahirkan generasi yang di nantikan oleh seluruh umat muslim.
  Peran wanita memiliki dua ranah, ranah di luar rumah dan ranah di dalam rumah.
  Peran wanita di luar rumah sangat berkaitan dengan peranya di dalam rumah. Wanita yang telah    berhasil memenuhi hak-hak dan kewajiban di dalam rumah, pada dasarnya dia juga telah ikut ambil peran untuk kebutuhan islam di luar rumah. Karena ketika seorang wanita telah menjadi istri  yang sebagaimana kami sebutkan di atas maka secara tidak langsung dia telah membantu sang  suamiberdakwah. Begitu juga dengan peran wanita menjadi seorang ibu, wanita yang berhasil mendidik anaknya, untuk memiliki karakter islami lebih di butuhkan oleh umat dari pada ketika dia turun langsung untuk membina umat.
   Berkaitan dengan kodratnya, kaum wanita dalam masyarakat islam memiliki peran dan tanggung       jawab yang nyaris sama dengan laki-laki. Wanita memiliki berbagai hak dan kewajiban. Kita juga      tidak meragukan bahwa kaum wanita dapat bekerja dengan baik di bidang-bidang keilmuan,                kemasyarakatan, dan politik. Selain itu sebagaimana kaum laki-laki, mereka juga dapat ikut andil        dalam membangun umat dan aktif di kehidupan sosial. Selagi dia telah memenuhi dan memelihara      hak-hak dan kewajiban nya.
  Peran wanita atau tugas utama dalam kacamata syar’i adalah menjadi kekasih sejati sang suami,           menjadi ibu yang baik dan mencintai anak-anaknya, serta mengatur kehidupan keluarga.
  Wanita yang hebat dan memiliki karakter yang baik, adalah ketika dia bisa berkontribusi unutuk          membangun peradaban islam yang lebih baik dari dalam rumahnya.

         D.    PENUTUP
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menjadi pemateri dalam diskusi kali ini. Kami berharap dengan makalah ini bisa menjadi dorongan bagi muslim secara umum dan secara khusus kepada wanita muslimah di seluruh bumi ini, untuk mengambil peran mereka dalam membantu menegakan kalimat “la illaha illalahu” .
Tidak lupa juga kami selalu mengingatkan kepada para pria bahwa salah satu penunjang keberhasilan wanita dalam mengambil peran mereka dalam agama ini adalah penjagaan, dukungan dan semangat yang pria berikan kepada mereka.
Semoga makalah kami yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat untuk para muslimin dan Muslimah sekalian. Dan ingatlah para wanita sungguh kalian sangat berharga.  Wallahu A’lam.

(Disampaikan oleh Syahid Fauzan Asykarullah, dalam Diskusi Online Ahsanul Qurun pada Minggu, 26 April 2020 M / 3 Ramadhan 1441 H)
Kedudukan & Peran Wanita Dalam Islam Kedudukan & Peran Wanita Dalam Islam Reviewed by Ahsanulqurun on April 26, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads