Header AD

Budaya Literasi Di Kalangan Pelajar Dan Santri



Pendahuluan

Pelajar dan santri adalah aset besar untuk pembangunan bangsa, agama dan masyarakat. Membangun kultur literasi bukanlah sebuah tugas yang instan, butuh perjuangan extra keras dan niat tulus dari hati.
Banyak sudah Anggapan masyarakat bahwa Santri itu Kuno,Eklusif, Radikal  dan hanya berkutat dalam masalah Agama semata. Banyak pula sebagian pelajar yang dianggap hedonis,dan jauh dari pelajaran agama dari Anggapan ini layaknya dirubah menjadi anggapan bahwa Pelajar dan Santri sebagai agen of change salah satunya dengan gerakan intelektualitas melalui kultur literasi.
Pondok Pesantren merupakan tempat menyemai tunas penerus bangsa dan agama. Tidak sedikit founding father bangsa kita terlahir dari rahim kultur pondok pesantren semisal Buya Hamka dan kerap berkutat pada kitab-kitab dan buku-buku.
Mengingat bahwa pesantren berperan aktif dalam membangun literasi terutama memberikan kontribusi literasi bahasa Al-Qur’an pelajaran Nahwu Shorof.
Begitu pula dengan sekolah umum, dari rahim sekolah umum banyak  founding father yang keseharianya dihabiskan bersama buku. Salah satunya Seorang Bung Hatta yang mampu menghabiskan waktu 6-8 jam untuk berinteraksi besama buku-buku. Tokoh ini begitu sangat antusias dengan dunia literasi,Dengan Motto yang sering kita dengar ‘’silahkan kau penjarakan aku dimana saja, asalakan aku bersama buku’’ ada keunikan tersendiri dari Bung Hatta dalam dunia literasi.
Dari sini kita melihat Pondok dan sekolah memiliki kemiripan yaitu menganjurkan membaca kitab dan buku.

Permasalahan

Apa itu Pengertian Literasi?
Bagaimana agama Islam memandang Literasi ?
Apa Manfaat literasi bagi Pelajar & Santri ?

Pengertian Literasi

Literasi yang dalam bahasa Inggrisnya _Literacy_ berasal dari bahasa Latin _littera_ (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan. Sebagai contoh kegiatan yang berkaitan dengan literasi adalah membaca dan menulis.
Pandangan Islam tentang literasi
Wahyu yang pertama diturunkan kepada umat Islam adalah membaca. Perintah membaca yang merupakan salah satu bentuk kemampuan literasi dasar didukung penuh oleh agama Islam.
Ditengah-tengah bangsa Arab yang meletakan kemuliaan seseorang di atas hunusan pedang, kegagahan pada suku dan ayah. Islam mengatakan dengan keras bahwa kemuliaan seseorang terletak pada Ilmu pengetahuan.
Melihat kejayaan dunia islam, tak lepas dengan dunia perbukuan. Islam agama  yang sangat mementingkan perbukuan. Kita bisa melihat Perpustakaan baitul hikmah yang didirikan khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan bukti bahwa agama islam sangat mengagungkan dunia literasi. Selain itu pula di zaman salafus shalih Ibnu taimiyah menulis sebuah karya tulis berjudul  ‘’majmu’ul fatawa yang terdiri dari 12 jilid. Ibnu Qoyim  Al-Jauzy menulis karya Al fawaid . Imam Syafi’i menulis karya Al-um. Ini menandakan bahwa buku  merupakan identitas seorang muslim harus bermanfaat bagi generasi  di kemudian hari.
Banyak sudah ulama-ulama salaf  yang  telah berkecimpung  dalam dunia literasi. Dengan  adanya literasi pula kita bisa memahami islam secara mendalam. Oleh  karena itu,  membangun  kultur literasi  adalah  tugas mulia bagi seorang  muslim. Karena hakikat  muslim itu  sendiri  harus mampu  bermanfaat bagi orang lain.

Literasi Sarana Melawan Taklid

Membaca buku  adalah via melawan kebodohan dan segala kefanatikan. Melihat kondisi  umat islam hari ini yang penuh dengan  sekte-sekte  ormas, menghasilkan sebuah kefanatikan semata.
Seorang pelajar atau santri sebenarnya tidak boleh fanatik terhadap golongan atau kelompok, karena bisa membuka membungkam  keilmuan.  Seperti contoh pelajar atau santri penganut mazhab tertentu enggan belajar kepada lembaga yang bukan penganut mazhabnya.
Sebenarnya ilmu pengetahuan allah itu bisa di dapat dimana saja.  Kejadian seperti ini bisa disebabkan akibat ketaklidan dan  ke engganan membaca buku.
Kebanyakan orang masih suka mentransfer ide-ide  yang berlaku umum di tengah-tengah masyarakat, atau ide-ide  yang diwariskan oleh generasi-generasi sebelumnya, tanpa pernah mengadakan pengecekan kembali terhadap keabsahanya. 
Membiasakan sikap berpikir seperti itu berati memberi peluang untuk memperlemah daya pikir atau setidak-tidaknya akan memberi kesempatan pola pikir negatif  mempengaruhi dan meracuni  pola  pikir.

Taktik membangun kultur literasi

Berbagai metode telah dilakukan oleh sekawanan pecinta buku supaya terciptanya kultur literasi, mulai dari magang di jalan, membuat perpustakaan bergerak dan lain-lain. Disini saya menawarkan sebuah konsep pembangunan kultur literasi di kalangan Pelajar dan Santri. Membangun kultur literasi dikalangan pelajar dan santri sederhananya bisa dimulai dengan cara :

• Memfasilitasi pelajar dan santri dengan perpustakaan.
• Langkah kedua  membuat lingkungan dengan serba buku.
• Menyalurkan tulisan melalui majalah dinding & Media Sosial.
• Mengklasifikasikan buku bacaan.

(Oleh Anja Hawari Fasya, disampaikan pada Diskusi Online Ahsanul Qurun pada Minggu, 05 April 2020)
Budaya Literasi Di Kalangan Pelajar Dan Santri Budaya Literasi  Di Kalangan Pelajar Dan Santri Reviewed by Ahsanulqurun on April 05, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads