Header AD

Abdullah Bin Rawahah, Penyair Jujur Dan Heroik



Oleh: Anja Hawari Fasya 
Bagi masyarakat Arab jahiliyah syair telah menjadi bagian tradisi. Sejarah menunjukkan pada zaman Rasul Saw telah terbentuk sebuah pasar syair yang dikenal dengan nama pasar "Uqads" tempat para ahli syair dari segala penjuru kabilah melantunkan syair-syair terbaiknya. Bagi syair yang istimewa dan terbaik karyanya akan ditempel pada dinding Ka'bah. Syair merupakan produk dari kreatifitas bahasa yang sangat dibanggakan. Ibnu Khaldun sebagai sejarawan Islam mengatakan syair atau puisi adalah seni untuk mengabadikan pengalaman dan historis yang terjadi di kehidupan terkhusus pada masyarakat Arab jahiliah. Realitas sosial Arab memang tidak lepas dari budaya lisan, maka tak heran jika salah satu sahabat nabi bernama Abdullah bin Rawahah diantaranya adalah ahli syair yang Mashur. Selain pandai dalam bersyair, Abdullah bin rawahah adalah sahabat nabi yang ditugaskan khusus untuk menghitung hasil pertanian sebagai dasar menentukan zakat yang harus dikeluarkan.
Beliau masuk Islam ketika baiat aqabah pertama dan termasuk orang yang tekun menjadi penyiar agama Islam pertama di kota Madinah. Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuan bersyair untuk mengabdi pada kejayaan Islam. Bahkan dalam salah satu riwayat hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Dari Aisyah beliau berkata "Seseorang bertanya kepadaku, "Apakah Rasulullah pernah melantukankan syair? Aisyah menjawab. "Beliau pernah melantunkan syair Ibnu Rawahah dan beliau telah melantunkan berita tanpa tambahan."
Bukan hanya pandai bersyair, Abdullah bin Rawahah merupakan sahabat yang jujur dan tegas menolak segala bentuk suap. Suatu ketika nabi Muhammad SAW menyuruh Abdullah bin Rawahah datang ke wilayah Khaibar untuk menaksir jumlah kurma yang dimiliki masyarakat sana. Penugasan tersebut dimaksudkan untuk menarik upeti di kalangan non muslim, Sesuai dengan perintah nabi, Abdullah bin Rawahah menghitung kurma yang menggantung di atas pohon, namun penduduk Khaibar yang notebenya etnis Yahudi mengumpulkan perhiasan dan menemui Abdullah bin Rawahah.
Penduduk berharap Abdullah bin Rawahah mengurangi taksiran dan memberikan keringanan untuk membayar jizyah. Sontak Abdullah bin Rawahah marah dan menolak suap yang diberikan penduduk. “Harta sogokan (risyhwah) yang kalian tawarkan kepadaku adalah harta haram. Kami tidak akan memakannya,” tegas Abdullah bin Rawahah. Setelah penolakan itu, masyarakat Khaibar berpendapat kalau sikap tegas Abdillah bin Rawahah itulah yang menyebabkan bumi dan langit masih tegak. Dalam ajaran Islam suap & menyuap merupakan hal yang dilarang sebagaimana nabi bersabda : Allah melaknat orang yg menyuap dan disuap. (HR. Ahmad)
Tentu kisah kejujuran  Abdullah bin Rawahah menjadi bahan refleksi bagi kita semua, melihat realitas saat ini salah satu kejahatan yang banyak terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat adalah suap-menyuap dengan maksud untuk mempermudah segala urusan. Abdullah bin Rawahah mengajarkan kita bahwa setiap ibadah yang kita lakukan sebetulnya merupakan riyadhah untuk mendidik nilai moral tertentu, bahkan begitu mulianya pesan moral ini, sampai Rasulullah Saw menilai "Harga" suatu ibadah itu dinilai dari sejauh mana kita menjalankan pesan moralnya. Tentu kualitas kejujuran yang dimiliki Abdullah bin Rawahah tidak terlepas dari pantulan ibadahnya.
Sahabat nabi yang memiliki nama panjang Abdullah bin Rawahah bin Tsalabah Al-Ashari Al-khazraji ini, termasuk komandan yang gugur di Medan perang mu'tah. Kisah agungnya dalam menjemput maut banyak dikatakan sebegitu heroik dan dikenangnya sebagai prajurit yang lebih mencintai kematian daripada kehidupan. Perang mu'tah termasuk peperangan terbesar yang dilakukan orang-orang muslim semasa Rasulullah dan juga termasuk yang paling menegangkan, perang ini adalah jalan pembuka untuk menaklukan negeri-negeri nashrani yang terjadi pada bulan Jumadil Ula 8 H.
Kronologi perang mu'tah ketika Al Harits bin Umar diutus rasul untuk mengirim surat kepada pemimpin bushara. Namun di perjalanan di hadang oleh syurahbil bin Amr Al Ghassani, pemimpin Al balaqa. Syurahbil mengikat Al harist dan membawanya kepada kaisar, lalu memenggal leher Al harist.
Padahal secara etika membunuh seorang utusan merupakan kejahatan yang amat keji, sama dengan mengumumkan perang atau bahkan lebih dari itu. Rasulullah Saw marah dan langsung mengkonsolidasikan tiga ribu pasukan muslim untuk melakukan pembebasan ke daerah mu'tah. Ketika pasukan Islam sudah siap berangkat, orang-orang berhimpun datang memanggil komandan pilihan Rasulullah untuk mengucapkan selamat tinggal. Salah seorang dari tiga komandan pasukan, Abdullah bin Rawahah menangis.
Mengapa engkau menangis ? Tanya mereka.
Abdullah menjawab, "Demi Allah, aku menangis bukan karena cinta dunia dan rindu kepada kalian, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah Saw membaca ayat yang didalamnya disebutkan neraka, "Dan tidak ada seorang pun di antara kalian, melainkan mendatangi neraka itu , Hal ini bagi Rabmu adalah suatu kepastian yang sudah di tetapkan" aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku setelah aku meninggal nanti. Maka orang-orang pun memohon keselamatan kepada segenap pasukan muslim dan komandan perang.
Kemudian, kindung syiar dilantukan Abdullah bin rawahah menyambut dirinya ke Medan juang,
"Ku memohon magfiroh kepada Ar Rahman
Di samping tebasan pedang yang menepis kotoran
Atau Hujaman tanganku yang kuat perkasa
Dengan tombak yang mengeluarkan isi dada
Biarlah orang berkata saat melewati kuburku
Allah telah memberikan petunjuk kepadaku."
Pasukan muslim kemudian bergerak untuk berperang hingga berhenti di daerah mu'an. Di daerah mu'an kaum muslim membuat majlis permusyawaratan sebab mendapatkan informasi bahwa heraklitus yang bermarkas di Ma'dab memiliki kekuatan seratus ribu prajurit Romawi. Mereka masih bisa di tambah dari beragam daerah sepeti lakhm, judzam, balqin, bahra sebanyak seratus ribu prajurit. Maka menghitung total kekuatan musuh memiliki dua ratus ribu orang.  Orang muslim tak bisa membayangkan pasukan tiga ribu melawan pasukan sebanyak itu, dua hari di mu'an mereka berdiskusi dan bertukar pikiran mencari opsih untuk menaklukan musuh. Salah satu opsih yang dipilih ialah meminta bantuan tambahan kepada rosul dengan cara menyurati. namun, pendapat itu di tentang oleh Abdullah bin rawahah.  Dia memberikan motivasi kepada orang-orang dan berkata "Wahai semua orang, demi Allah, apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya justru merupakan sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyak personil. Kita memerangi mereka melainkan karena agama ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah karena di sana hanya ada dua salah satu dari dia kebaikan, entah kemenangan entah mati syahid."
Akhirnya pasukan muslim bertekad kuat mengikuti apa yang Abdullah bin Rawahah sampaikan, sungguh kisah agung ini merupakan salah satu ciri khas perang holy war, pasukan yang lebih mencintai kematian ketimbang kehidupan nyata tergambar pada perang Mu'tah.
 Di mu'tah kedua pasukan saling berhadapan, pertama kali yang memegang bendera ialah  Zaid Bin Haritsah, dia bertempur dengan gagah dan berani sampai maut menjemput menuntun menuju kesyahidan. Tubuhnya tercabik tombak dan terjerembab di tanah. Kemudian bendera diambil alih oleh Ja'far bin Abu Thalib . Dia bertempur dengan sekuat tenaga, nyali beraninya menuntun dia menuju alam baka menuju pangkuan sang ilahi Rabbi. Ja'far bin Abu Thalib syahid dengan kondisi badan yang terbelah dua. Allah menganugerahinya dua sayap kelak di surga, karena itu Ja'far di juluki At-thayyar (penerbang) atau dzul Janahain (orang yang memiliki dua sayap). Setelah Ja'far bin Abu Thalib gugur, bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Dia maju meski terlihat sedikit ragu sambil  melantunkan syair terakhir menuju kesyahidan.
"Wahai jiwa segeralah turun ke sini
Turunlah atau engkau akan dibenci
Biarkan mereka berteriak dan menghina
Mengapa kulihat engkau tidak suka surga"
Akhirnya dia benar-benar turun dari punggung kuda, pada saat itu sepupunya menghampiri dirinya sambil menyerahkan sepotong tulang yang masih tersisa daging, dengan maksud menyuruh Abdullah bin Rawahah makan terlebih dahulu, tetapi dia hanya memakannya sedikit dan memutahkanya kembali. Dia mengambil pedangnya lalu maju ke depan bertempur hingga gugur. Syahdan ! Abdullah bin Rawahah pergi dengan tenang menuju surga yang di janjikan, sahabat yang semasa hidup pandai bersyair dan jujur meninggal terkapar di Medan perang.
Allah menjemput Abdullah bin Rawahah dengan kondisi kesyahidan, kondisi yang didambakan oleh para sahabat. Setelah beliau syahid, bendera diambil oleh Khalid bin Walid sampai memenangkan pertempuran . Sesuai dengan apa yang ia katakan pada saat di mu'an. Allah memberikan dua ketenangan, entah mati syahid entah kemenangan.
Kisah heroik ini harus tetap dikenang, sejarah pada dasarnya sebagai pondasi ghirah semangat dalam berjuang.
Semoga Allah merahmati Abdullah bin rawahah.


Abdullah Bin Rawahah, Penyair Jujur Dan Heroik Abdullah Bin Rawahah, Penyair Jujur Dan Heroik Reviewed by Ahsanulqurun on April 17, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads