Header AD

PEREMPUAN DI TENGAH BUDAYA JUMPALITAN



Oleh Anja Hawari Fasya
Mendengar kata "empu" rasanya kita teringat akan orang-orang hebat semisal, empu Tantular, empu Gandring dan empu-empu yang lainya. Dalam hal ini, penulis akan sedikit menyinggung masalah peranan seorang perempuan didalam masyarakat.
Melihat sebagian perempuan saat ini masih dijadikan mangsa objek seksual. Merebaknya diskriminasi, ekspoloitasi, dan pelecehan terhadap perempuan, merupakan bukti yang menegaskan bahwa perempuan masih belum mendapat posisi kemerdekaan dikalangan masyarakat. Perempuan masih banyak di jadikan budak, budak yang dimaksud ialah sama seperti properti yang dapat dipakai dan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kehidupan perempuan bersifat fungsional. Ia tak lebih dari seorang isteri bagi laki-laki yang hanya digunakan untuk mempunyai keturunan, dan sebagaimana budak, ia mengambil bagian untuk menyediakan segala keperluan hidup. Dari sisi lain, pekerjaan perempuan seringkali dikategorikan sebagai ‘’pekerjaan gratis’’, artinya, pekerjaan yang tidak bernilai atau kurang bernilai secara finansial. Pekerjaan ini lebih bersifat pekerjaan yang ‘’melayani’’ atau "mengasuh’’ masyarakat, seperti pekerjaan pembantu rumah tangga, guru, dan sebagainya.
Dalam lembaran sejarah ada banyak filsuf perempuan yang hebat lahir, namun sayangnya mereka tak muncul ke permukaan dan diketahui khalayak publik pada umumnya. Dari filsafat Yunani muncul nama-nama seperti Themistoclea, Theano I,  dan Theano II, Arignote, Myia, Damo, Lucania , Julia Domna, Makrina dan Hytpatia. Mereka semua merupakan perempuan-perempuan berani terjun dalam dunia filsafat, kiranya ada beberapa sebab mengapa mereka tak dipublikasi secara utuh, mungkin dominasi jumlah filsuf laki-laki memang sangat jelas terlihat. Namun, permasalahanya sebetulnya tidak sekedar berhenti pada kuantitas praktisi filsafat yang mayoritas adalah laki-laki, tapi juga berkaiatan dengan adanya cara pandang tertentu yang sarat dengan maskulinitas. Bila perempuan sebelumnya sepanjang sejarah selalu didefinisikan oleh laki-laki, maka pada abad ke-19 dan memasuki abad ke-20, pergerakan-pergerakan perempuan mulai mengental dan menawarkan definisi baru. Para feminis mencoba mendefinisikan perempuan melalui pedekatan-pendekatan kesadaran feminis. Para feminis berusaha menunjukan bahwa sistem patriarkhal mempunyai andil yang besar dalam menghambat kemajuan-kemajuan perempuan.
Sekitar tahun 1947, Ir. Soekarno membuat kursus politik bagi kaum perempuan di Yogyakarta. Berkat perhatian Soerkarno terhadap kaum perempuan Indonesia melahirkan mahakarya yang berjudul ‘’Sarinah’’. Baginya perempuan bukan budak yang bisa di pekerjakan sebebas-bebasnya. Ia mengingatkan perempuan keluar dari kungkungan adat istiadat sesat yang merugikan perempuan. Mata air cinta humanisme dan feminisme soekarno dalam pelukan ibu asuh membuat ia terus tekun belajar mengadopsi pemikiran-pemikiran berbagai tokoh kesetaraan. Kartini, Chalidah Hanum, Kolloontay, Havelock Ellis, Henriette Roland Host, Charles Fourrier, dan Baba O’llah. Mereka semua ia adopsi sebagai pemikiranya untuk berjuang mempertahankan harkat dan martabat perempuan.
Soekarno  mengidentifikasi tiga peran penting perempuan bagi bangsa sebagai berikut :
1. Peran perempuan dalam memperjuangkan kebebasan dirinya. Dalam hal ini, setiap perempuan harus mampu membebaskan dirinya dari belenggu yang melilit.
2.  Peran feminis perempuan dalam memperjuangkan keseteraan kaumnya di hadapan laki-laki.
3. Perempuan indonesia harus melakukan perjuangan nasional untuk mewujudkan masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera.

Perjuangan Soekarno dalam mengupayakan kemerdekaan bagi kaum perempuan sangat tak terhitung nilainya, dari kalangan ulama seorang Buya Hamka menulis buku ‘’Hamka bicara tentang perempuan’’ yang berisi pandangan islam terhadap perempuan. Sedikitnya ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam mengurai penghargaan yang sama didalam kehidupan.
Didalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 71-72 Allah Swt berfirman,
(71). dan orang-orang beriman,lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan solat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada allah dan rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh allah ; sesungguhnya allah maha perkasa lagi maha bijaksana.
(72). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka didalamnya, dan (mendapatkan) tempat-tempat yang bagus di surga ‘adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar itu adalah keberuntungan yang besar’’ .
Maka didalam ajaran islam laki-laki dan perempuan mempunyai tugas yang sama-sama berat, ialah dalam menegakan agama ; amar ma'ruf, menegakan kebenaran dan keadilan, mengkokohkan akhlak yang tinggi dalam pembangunan masyarakat, mereka kaum perempuan diwajibkan untuk menjaga mutu masyarakatnya dan dilarang keras merusak ahlak lingkunganya.
Jhon Stuart Mill selaku filsuf mengatakan bahwa tidak ada masyarakat yang andil bila setengah dari penduduk masyarakat tersebut tidak diakui kesetaraanya. Sudah saatnya kita menjungjung tinggi harkat martabat perempuan, sebab perempuan adalah agen perubahan dari fitrah menuju kiprah.


PEREMPUAN DI TENGAH BUDAYA JUMPALITAN PEREMPUAN DI TENGAH BUDAYA JUMPALITAN Reviewed by Ahsanulqurun on March 03, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads