Header AD

Wasiat Sultan al-Fatih Kepada Putranya Sebagai Tarbiyah Abawiyah


Oleh : Rizky Ms 


Rabiul awal tahun 887 H/ 1481 M, Sultan Muhammad Al-Fatih berangkat menuju Asia kecil. Di kawasan Askandar telah dipersiapkan sebuah pasukan dalam jumlah besar. Sebelum keluar dari Istanbul menuju Asia kecil. Beliau diserang penyakit panas, namun hal itu tidak sedikit pun mengurangi rasa kecintaan beliau untuk berjihad fi sabilillah, biasanya ketika ditimpa penyakit beliau segera mendapatkan kesembuhan ketika sudah terjun dalam peperangan. Namun panas yang dideritanya waktu semakin parah dan tinggi, setibanya di Askandar Muhammad Al-Fatih pun memanggil para dokter untuk memeriksa dan memberikan pengobatan kepada beliau, namun kehendak dan ketentuan Allah Swt telah termaktub, saat itu tidak ada lagi gunanya peranan seorang dokter dan sebutir obat, kondisi Muhammad Al-Fatih pun semakin melemah, sehingga tangisan pilu, tangisan berjuta kepala pun menangis waktu ketika Allah Swt mencabut nyawa beliau. Muhammad Al-Fatih wafat di tengah pasukan besarnya pada tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/1481 M. Beliau wafat pada usia 52 tahun dan beliau memegang kekuasaan Utsmani 30 tahun lebih.
Sebelum wafatnya beliau ada sesuatu wasiat yang menggambarkan arti falsafah hidup, melukiskan jalan hidup, nilai-nilai, etika, adab, moral, prinsip-prinsip keyakinan yang disampaikannya kepada putranya. “Aku datang ke negri ini laksana semut kecil, lalu Allah Swt karuniakan kepadaku nikmat yang sangat besar, maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah Swt dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam berfoya-poya dan senang-senang sebab semua itu merupakan pintu-pintu menuju kehancuran.”
Dari wasiat Muhammad Al-Fatih begitu banyak makna tersurat-tersirat di dalamnya sehingga mampu mengantarkan kejayaan Khilafah Utsmani, makna hikmah yang harus direnungkan adalah beliau mewasiatkan kepada anaknya,“jadilah engkau pemimpin yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu kepada seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah menyebarkan agama Islam, kedepankan kepentingan agama atas kepentingan apa pun, janganlah kamu lemah dan lalai dalam menegakkan agama, janganlah kamu sekali-kali mengangkat orang-orang yang tidak peduli agama sebagai pembantumu, jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam perbuatan keji, hindari bid’ah-bid’ah yang merusak, lakukan perluasan negri melalui jihad, jagalah harta Baitul Mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali engkau mengeluarkan tanganmu untuk mengambil harta rakyatmu, kecuali sesuai aturan Islam. Himpunlah kekuatan orang-orang lemah dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak. Hormatilah para ulama karena mereka laksana kekuatan yang ada di dalam tubuh bangsa, hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan banyaknya jumlah tentara, jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintu-pintu istanamu, janganlah kamu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam sebab agama merupakan tujuan kita.”
Di dalam wasiat Muhammad Al-Fatih mengisyaratkan keinginan beliau kepada anak-anaknya agar mengikuti perangai beliau yang baik sebab warisan yang baik bukan berupa harta, harta bisa habis dalam hitungan waktu, bukan pula jabatan,  tetapi warisan berupa agama, falsafah hidup  yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun makna tarbiyah yang bisa dipetik dalam wasiat ini adalah hendaknya seorang Ayah memberikan wasiat kepada anak-anaknya adalah perkara urusan agama terlebih dahulu bukan wasiat berbentuk harta duniawi semata, sebagaimana  apa yang diwasiatkan Nabi Ibrahim kepada anaknya yang Allah Swt lukiskan dalam firman-Nya :
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. "Hai anak-anakku Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
Secara explisit Nabi Ibrahim mewasiatkan kepada anak-anaknya agar berpegang teguh kepada agama Allah Swt, berserah diri kepada Allah Swt, mencintai, menjaga keistiqamahannya hingga wafat, dalam artian jangan mati kecuali dalam keadaan muslim.


Wasiat Sultan al-Fatih Kepada Putranya Sebagai Tarbiyah Abawiyah Wasiat Sultan al-Fatih Kepada Putranya   Sebagai Tarbiyah Abawiyah Reviewed by Ahsanulqurun on February 02, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads