Header AD

Hikmah dari Majnun


Oleh Rizky MS

**

Sore ini kota Solo diguyur hujan, halte bus membawa rindu yang dibalut derasnya isak tangis dalam dada, ketidakadilan rasa yang di pisah waktu, konon katanya rindu harus dituntaskan dengan temu, temu yang akan membinasakan rasa cemburu. Cemburu yang berasal dari kekurangajaran jarak, tangis ini mungkin yang pertama menimpa dada, air mata asin mengalir di pipi menandakan ia sebuah garam kehidupan.
Pada satu pertemuan kala itu, rasanya seolah saya telah  menemukan  penjelasan dari semua tunggu yang rela saya nantikan tanpa lelah. Namun, pada satu kehilangan, saya baru menyadari bahwa sebenarnya penjelasan baru saja tiba, sedang  di awal hanyalah sebuah pertanyaan yang menjelma jawaban. Akhirnya, kita memang tidak lebih dari potongan rindu, sisa-sisa tanya yang tak sempat bertemu kepastian. Terlanjur habis digerus tanya demi tanya, tak dapat menemukan sebenarnya dimana letak kepercayan. Hingga mencari, dari satu kepergian menuju kepergian lain. Yaa, semua begitu melelahkan.
Sudahlah! Dasar lelaki cengeng. Waktu terlalu singkat jika hanya untuk terus meratap, sudahlah! Cakap-cakap manismu dengan wanita bukan satu-satunya makanan pokok yang akan menghidupkan nyawamu, sehari tanpa kabar darinya bukan satu-satunya racun yang bisa membuat detakmu jantung berhenti, celengan rindumu cukup kau jaga baik-baik, lagi pula kau bukan Dilan yang kisah cintanya kandas oleh keegoisan, kau juga bukan Zainudin yang sebagian cintanya tenggelam bersama Van Derr Wick, lagi pula kisahmu bukan kisah Seribu Satu Malam layaknya Laila Majnun, derasnya hujan sore ini cukup membuatmu  layaknya Majnun yang berbaik sangka kepada Laila, betapa Majnun bangga menghadiri pesta yang dirayakan di rumah Laila, senang hati dia datang ke pesta Laila, menghampiri Laila untuk mengambil makanan pesta kala itu. Tapi Laila melempar piring makanan di depan Majnun sontak kaget warga setempat melihat tingkah laku Laila terhadap Majnun, melihat kejadian itu Majnun tertawa riang karena begitu gembira melihat apa yang dilakukan Laila, warga pun keheranan sambil menepuk pundak Majnun.
“Eh Majnun kenapa kamu tertawa?  Laila telah mengusirmu dari pestanya.” Majnun pun tambah tertawa riang.
“Hahaha, dasar kalian tidak tahu apa-apa perihal rinduku, Laila melempar piringnya itu sengaja biar aku bisa ngantri kembali dan kita bisa saling tatap-menatap mata menuntaskan rindu, rindu yang sudah aku tabung sekian lama.”
Argh.. dasar Majnun! Terima kasih, caramu cukup membuat saya berbaik sangka, sore ini saya sadar kembali dari kekhilafan saya sebagai hamba Allah Swt, tidak seharusnya saya berburuk sangka kepada Allah Swt, apa yang saya anggap baik ini merupakan keburukan bagi saya, sehingga Allah Swt pun menyadarkan saya, dengan cara-Nyalah rindu saya kepada mahluk-Nya akan tersampaikan dengan cara yang halal, percayalah sesuatu yang baik akan didapat dengan proses yang baik jua.
Sebenarnya hidup tak pernah rumit,
Yang rumit hanyalah rasa syukur,
Karena kita selalu mempertanyakannya.


Hikmah dari Majnun  Hikmah dari Majnun Reviewed by Ahsanulqurun on February 04, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads