Header AD

Salah Dalam Memahami Konsepsi Ilmu





Oleh: Rizky Ms

Dewasa ini banyak orang-orang lebih bangga mendakwakan dirinya sendiri dengan label “Saya Awam” didalam urusan agama. Sehingga mereka berasumsi bahwa mempelajari ilmu agama merupakan tanggung jawab orang-orang pondok pesantren. Mereka lebih menganggap mempelajari ilmu agama hanya sekedar mengisi waktu luang saja. bahkan ada sebagian para lulusan sekolah/kampus ternama yang notabenenya mempelajari ilmu-ilmu umum lebih senang dan bangga memelihara label “Saya Awam” dalam urusan agama. Meskipun sudah lulus kuliah menghabiskan puluhan juta uang dan menjadi seorang muslim sejak lahir, tetapi mereka lebih senang memilih jalan “Saya Awam” dalam agama. Pada hakikatnya mereka memberi label “Saya awam” bukan berarti otak mereka bodoh atau tidak mempunyai kelonggaran waktu untuk belajar. Tetapi sejatinya mereka belum memahami konsepsi ilmu itu seperti apa. Mereka belum bisa membedakan mana ilmu yang fardhu ‘ain dan mana yang fardhu kifayah.

Padahal dalam masalah konsep ilmu sudah dijelaskan secara gamblang bebearapa tahun yang lalu oleh ulama hujatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya yang fonemal sampai sekarang yaitu Ihya Ulumudien, beliau mengatakan bahwa ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang diperlukan untuk mengamalkan kewajiban. Seperti ilmu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Aqidah dan ibadah-ibadah wajib lainya. Maka untuk orang-orang yang dikarunia akal lebih maka mempunyai kewajiban dan beban untuk mengkaji keilmuan ilmu tertentu lebih berat. Merekalah yang harus mendalami ilmu-ilmu yang fardhu ‘ain. Sedangkan ilmu fardhu kifayah adalah seperti ilmu kedokteran dan ilmu berhitung (matematika). Ilmu seperti ini diperlukan untuk tegaknya system tatanan masyarakat. Fardhu kifayah artinya jika sebagian kaum muslimin sudah menguasai ilmu itu, dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan masyarakat, maka gugurlah kewajiban itu dari sebagian kaum muslimin yang lainya. Maka, tidak perlu semua anggota masyarakat menjadi dokter, pakar dalam matematika, teknik, pesawat. Cukup sebagian kaum Muslimin yang mengusai bidang ilmu fardu kifayah.

Oleh karena itu kaum Ulama dan Akademisi memiliki tanggung jawab yang lebih berat. Disamping wajib mengetahui yang benar, mereka juga harus mengetahui ilmu tentang hal-hal yang bathil yang menjadi virus dimasyarakat. Sebab menurut Imam al-Ghazali orang yang tidak mengetahui kebathilan ia akan terperosok didalamya. Layaknya seorang dokter maka ulama wajib mengetahui tentang pengobatan dan sekaligus ilmu tentang penyakitnya. Sebagaimana di masa lalu para cendekiawan/ ulama Islam mengusai ilmu-ilmu keislaman secara mendalam, mereka juga tidak anti dalam mengusai ilmu-ilmu kontemporer. Dengan itulah para cendekiawan/ulama bisa menjalankan peranan sebagai pewaris para nabi dan menjaga aqidah umat.

Begitupun para pelajar hari ini harus menapaki apa yang ditapaki ulama terdahulu, pelajar hari ini wajib memahami secara mendalam masalah-masalah yang memperkeruh agama seperti virus sekulerisme, liberalism, plularisme, marxisme. Karena paham-paham itulah yang merobek-robek agam Islam hari ini.

Jika pelajar hari ini tidak menguasai masalah-masalah pemikiran kontemporer hari ini. Maka hanya akan menjadi “penonton yang baik” di suatu tempat “perang pemikiran” yang sedang berlangsung tanpa memberikan peran sedikitpun bahkan tidak tahu-menahu subtansi dari perang pemikiran tersebut. Oleh sebab itu kita harus senantiasa kembali memahami dan menghayati konsepsi ilmu dalam Islam. Islam mewajibkan pemeluknya menuntut ilmu dari lahir hingga meninggal. Dan yang wajid pertama di pelajari adalah ilmu fardu ‘ain yang mana ia adalah suatu ilmu yang menjadi syarat bisa terlaksananya (dengan benar) sebuah ibadah yang hendak dilakukan oleh seorang hamba atau mu’amalah (aktifitas dengan orang lain) yang hendak dikerjakannya, maka pada keadaan ini wajib ia mengetahui (ilmu tentang) bagaimana beribadah kepada Allah dengan ibadah itu, dan (ilmu tentang) dan ilmu tentang bagaimana bermuamalah.

Harapanya setelah ini tidak ada lagi kata mendakwa diri dengan label “Saya Awam” dengan alasan saya sudah belajar ilmu kedokteran, astronomi, komputer, filsafat, yang menjadikan timbul di dalam diri tidak merasa wajib mempelajari Ilmu agama. tetapi lebih dari itu harus menjadikan kedua ilmu tersebut berjalan sinergis, sebab Islam tidak pernah menolak salah satunya, Tradisi Islam juga tidak pernah membuang ilmu-ilmu umum. Oleh karena itu jadikanlah ilmu fardu ‘ain sebagai falsafah dasar dari ilmu fardu kifayah. Ilmu fardu kifayah harus ditopang oleh ilmu fardu ‘ain, dengan hal itulah akan menjadikan kaum muslimin melahirkan kader-kader ulama dan ilmuan yang cerdas faham agama, religiusm beriman dan beradab.

Salah Dalam Memahami Konsepsi Ilmu Salah Dalam Memahami Konsepsi Ilmu Reviewed by Ahsanulqurun on February 12, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads