Header AD

Pancasila dan Krisis Keteladanan




Oleh : Anja Hawari Fasya


Menurut Yudi Latief, "Problem Pancasila adalah terlalu surplus ucapan dan terlalu minus tindakan, dan inilah yang menimbulkan keraguan banyak orang akan kesaktian nilai-nilai pancasila dalam kenyataan hidup sehari-hari" masyarakat  kita mengalami krisis keteladanan. stockholder yang rakus dan serakah melakukan tindakan kriminal berupa korupsi telah menjadi budaya lokal birokrasi. Negara demokrasi yang salah urus adalah yang paling mudah dikendalikan korporasi yang punya uang banyak. Wakil rakyat dan pejabat negara mudah saja di sortir membuat undang-undang yang menguntungkan korporasi dan menyengsarakan rakyat. Di sisi lain, kita mempertanyakan ulang sebetulnya apa yang dimaksudkan orang kebanggaan keluarga di mata pasangan atau anak-anak dan masyarakat? Benarkah yang memiliki uang banyak, kaya, artinya itu diukur dari materi.

Akhir-akhir ini terungkap dua kasus mengenai korupsi, Wahyu Setiawan dan Imam Nahrawi. Wahyu Setiawan memiliki 12 miliar lebih di kantongnya, Imam Nahrawi memiliki dua kali lipat dari wahyu. Apa mereka membanggakan masyarakat, keluarga dan pasangan? pastinya yang di dambakan oleh semua orang ialah reputasi terpuji dan kredibilitas. Kita menyadari bahwa sesunguhnya penguasa harus tetap arif, tanpa memahami amanah adalah anugerah maka kekuasaan bisa menjadi bencana. Menurut Thomas Aquinas kekuasaan manusia itu tak pernah mutlak dan selalu terbatas. Karena bagi Thomas Aquinas semua manusia itu ciptaan Allah maka dilarang bagi manusia untuk merasa lebih unggul. Tugas penguasa tak lain adalah melindungi kepentingan rakyat dan menjamin keamanan bagi rakyatnya.

Kisah Nabi Sulaiman dalam ajaran Islam memberikan refleksi mengenai hal ini, modal utama dia menjadi pemimpin ialah pengetahuan dan sikap rendah hati. Sikap itu terwujud dengan perangai sulaiman yang suka bersyukur. Kekuasaan yang megah tak membuat sulaiman pongah. Padahal kekuasaan dan pengetahuan berhimpun pada dirinya. Kebijakan sulaiman tetap menjadi kenangan yang mengagumkan. Sosoknya hadir untuk selamanya. Kekuasaan unggul dan hebat itu ada batasnya. Batas itu namanya kematian. Batas yang akhirnya dilalui oleh raja sekalipun. Sulaiman kini sudah bertemu dengan ajal. Tak seorangpun mengetahui maut menjemputnya. Tongkat kekuasaan yang di gerogoti rayap itu pertanda sederhana. Rayap itu membawa berita kematian. Lagi-lagi sulaiman diingatkan oleh binantang kecil, hina dan tak dihiraukan.

Sejarah sebagai sarana penghayatan kehidupan, menjadi point penting untuk menangkap nilai secara emotif. Kita melihat bagaimana founding father bangsa memberikan suri teladan yang baik bagi kehidupan. Ghirah ini harus tetap di tanam, di pupuk dan di pelihara. Tan Malaka , Hatta, Roesman Anwar, Yoseph Alomang,  telah berusaha demi terwujudnya pembangunan berkelanjutan untuk keadilan dan perdamaian. Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa, kita memiliki semangat Ki Hajar Dewantara, RA Kartini, Dewi Sartika, Roeslan Koedoes,  dan Maria Walanda Maramis. HOS Cokroaminito, Syarifuddin Prawira Negara, dan Natsir telah memberikan suri teladan berbuat baik dengan amanah, jujur, dan bersih.
Dari sini baiknya kita belajar “moral is not taught but caught” Nilai-nilai keteladanan dan kepahlawanan tidak diajarkan (taught) secara kognitif lewat hafalan dan pilihan ganda melainkan di tangkap (caught) lewat penghayatan emotif.  Semangat-semangat juang ini harus tetap setia di pegang. Hal-hal yang bersipat duniawi tidak membuat kitar getar mempertahankan idealisme. Mereka meninggalkan nama sedikit harta, inilah maksud dari kebanggan pasangan, keluarga dan masyarakat. Reputasi terpuji dan kredibilitas.
Saya mengutip puisi Suwijo Tejo
Marilah tak hafal Pancasila Sebagaimana banyak orang tak hafal rumus kimia oksigen
Tetapi setiap saat menhirup oksigen.




Pancasila dan Krisis Keteladanan Pancasila dan Krisis Keteladanan Reviewed by Ahsanulqurun on February 12, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads