Header AD

Mencuri Embun Pagi Untuk Hayati



Oleh:  Rizky MS.

Kira-kira jam setengah tujuh, aku pulang dari perpustakaan. Setiba di depan rumah pak RT aku melihat setetes embun pagi menempel di bunga mawar merah. Elok nan indahnya embun itu mengalahkan pusat perhatianku, selangkah demi selangkah aku dekati pagar pembatas antara jalan dan pelataran, entah kenapa tanganku sejengkal demi sejengkal ingin mengambil embun pagi itu. Saat itu pula, aku teringat tentangmu, embun itu merona seperti wajahmu, hee,,, Canda.
Embun pagi itu indah layaknya putih bola matamu, nyaman seperti ujaran sayangmu lewat aplikasi Whats app yang tiap malam kamu kirim untukku. Setelah kurasakan embun itu menerobos setiap kulit jamariku, tiba-tiba timbul dibenakku untuk mencuri embun pagi itu beserta mawar merahnya untuk aku kirim dari Solo ke Aceh lewat kurir J&T atau JNE yang siap mengantarkan sebuah pesan dan rindu untuk kekasih tercinta di Aceh.
Hayati… Untungnya tadi aku sedikit pulang lebih cepat dari tempat biasa membaca jadi jalanan masih sepi belum begitu ramai, dengan mata yang siaga melirik kesana kemari dan tangan yang gesit, segera kuambil embun pagi itu dan aku masukan ke dalam tas kecil tempat biasa aku menyimpan buku. Tiba-tiba sontak suara keras ibu RT berteriak.
Maling... Maling.... Maling.” Akupun kaget seraya bergegas lari tanpa arah tujuan. Aku lari secepat mungkin demi menjaga embun pagi indah itu, setelah dua puluh meter dari rumah pak RT, aku duduk sebentar di POS Kamling sambil memeriksa kembali embun pagi yang aku masukan ke dalam tas itu, ternyata embun pagi itu masih bersinar bening dan melekat di bunga mawar merah. Setelah itu, aku lekas berlari sembari menyembunyikan sebuah tas kecil agar tidak terlihat oleh warga. Eh,,, sial. Ternyata bu RT mengumumkan kejadian itu  lewat speaker kantor desa, beliau umumkan atas kehilangan mawarnya yang dicuri oleh lelaki putih sipit asal Tasikmalaya. Warga pun tidak menyangka atas pengumuman itu, tapi bagaimana mungkin warga mendiamkan seorang pencuri. Mereka harus mencopot dulu label pandang bulunya agar keadilan tegak, mereka pun bergegas membawa golok, pisau, bahkan pistol. Lalu sergap menyerang, mengejarku, hingga aku kehabisan cara untuk bersembunyi. Setiba di persimpangan jalan, aku berpapasan dengan Pak RT, perasaanku semakin tak karuan sontak  kaget begitu saja melihat raut wajah pak RT yang memanggilku.
“Kak.. Kak... Kak Rizky, kenapa lari-lari seperti seorang maling?” Ujar beliau.  Aku pun gugup harus menjawab apa, keringat bercucuran bahkan tadi pagi aku sedikit pipis hingga celana aku basah kuyup. Aku berterus terang saja, sambil hati kecilku berdoa mudah-mudahan pak RT tidak marah atas perbuatan yang telah aku lakukan. Aku berkata,pak mohon maaf tadi pagi saya mencuri embun pagi yang ada di pelataran rumah bapak, saya tertarik akan keindahan  embun pagi itu dan saya ingin memilikinya untuk saya berikan kepada kekasih saya di Aceh pak. “Hahaha… Dasar kamu nak.” Ucap pak RT sejenak dengan tawanya.Kenapa kamu begitu tertarik atas embun pagi itu? Lanjutnya bertanya.
“Saya harap setelah saya dapat embun pagi ini, saya bisa membuat kekasih saya di Aceh bahagia pak, soalnya embun pagi ini elok nan indah seperti kilauan wajah dia pak.” Setelah itu pak RT semakin tertawa terbahak-bahak.
“Ya sudah sekarang kamu gak usah lari-lari lagi, mawar pagi itu saya ikhlaskan dan saya umumkan ke semua warga bahwa mawar pagi itu milik kamu sekarang. Tapi kamu harus janji, kirim mawar berembun pagi ini untuk kekasihmu di Aceh dan satu pesan dari bapak, kekasihmu tidak menuntutmu untuk berjuang di dalam hal yang salah, dia lebih menginginkan kamu sebagai orang yang apa adanya. Itu saja pesan bapak, soalnya dulu bapak juga pernah nyuri mawar berembun pagi dari rumah Pak RW di zaman bapak. Untuk bapak berikan juga buat Bu RT. Eh,, setiba di rumah bu RT bapak ditampar oleh ibu. Sebab dia tau ulah bapak, oleh sebab itu kamu ceritain semua kisah ini jangan sampai ada yang ditutup-tutupi, terus bilang aja mawar berembun pagi ini awalnya kamu nyuri, namun setelah kejadian ini bukan hasil curian lagi.” Ujar beliau.  Oiya pak, siap siap, makasih ya pak embun paginya, segera akan saya kirim  sore ini dan lekas mengirimnya sebuah surat cinta. Kemudian pak RT menepuk pundakku seraya berkata. Halalkan dia dan perjuangkan cintanya.
Begitulah kejadian pagi yang menimpaku, jangan pernah mencuri barang orang lain, begitu juga dengan perasaan orang lain sebab seburuk-buruk perbuatan adalah mencuri. Kedepannya jika kita menginginkan sesuatu mintalah dengan cara baik dan perjuangkan dengan cara yang baik juga.
Mencuri Embun Pagi Untuk Hayati Mencuri Embun Pagi Untuk Hayati Reviewed by Ahsanulqurun on February 10, 2020 Rating: 5

1 comment

  1. Halalkan dengan jalan yang halal pula bung ...lanjutkan ��

    ReplyDelete

Post AD

home ads