Header AD

Intelektual



Oleh : Anja Hawari Fasya

Sudah menjadi lazim dikatakan bahwa, berfikir adalah merdeka. Orang yang tak pernah dapat dihalang-halangi untuk memikirkan apa saja yang ia kehendaki, selama ia menyembunyikan buah pikiranya. Pekerjaan otaknya hanya di batasi oleh batas-batas pengalamanya dan kekuatan daya khayalnya. Tetapi kemerdekaan yang sewajarnya untuk berpikir buat diri sendiri ini sedikit sekali harganya . Tidak memuaskan dan lebih lagi menyakitkan buat si pemikir itu sendiri, jika ia tidak diperkenankan menyampaikan buah pemikirannya pada orang lain.

Kebanyakan orang pada dasarnya memang malas dan lebih suka mengambil jalan yang paling gampang. Alam pikiran orang biasa terdiri dari kepercayaan yang telah ia terima begitu saja dan yang ia pegang teguh, menurut nalurinya ia harus memusuhi tiap-tiap hal yang akan menjungkir balikan tata tertib yang ada daripada dunia yang ia kenal. Suatu pikiran baru, yang tidak sesuai dengan beberapa kepercayaan yang dianutnya, baginya berati suatu keharusan untuk menyusun kembali pikiranya, dan perkembangan ini memerlukan usaha yang banyak dan meminta pemerasan isi kepala yang menjemukan.

Orang-orang yang berpikir secara kritis serta merdeka ini, disebut dengan Rausyan Fikr, Cendikiawan, intelektual. Apakah kaum ini sangat banyak jumlahnya, atau sebaliknya sangat sedikit dan merupakan kumpulan orang yang sangat sedikit terseleksi? Didalam buku Prison Potebooks yang ditulis oleh Antonio Gramsci bahwa, “orang dapat mengatakan : semua orang adalah intelektual, tetapi tidak semua dalam masyakarat memiliki fungsi intelektual”. Ada dua jenis intelektual menurut Antonio Gramsci. Pertama, intelektual tradisional semacam guru, ulama, dan para adiministrator pemerintah yang terus menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi. Dan kedua, intelektual organik, yang di pandang Gramsci sebagai kalangan yang berhubungan langsung dengan kelas atau perusahaan-perusahaan yang mendapatkan mereka untuk berbagai kepentingan serta untuk memperbesar kekuasaan dan kontrol.

Peran intelektual organik adalah memberi wawasan tentang bahasa pengetahuan dan bahasa ekspresi yang tepat agar masyarakat dapat mengartikulasikan hal-hal yang ia rasakan dan pikirkan. Melalui peran semacam itu, masyarakat tidak akan mudah terjebak dalam dogma ideologi dari kaum borjuis yang dituangkan lewat hegemoni.

Posisi Intelektual

Hubungan intektual dengan kekuasaan menjadi hal yang lumrah. Masalahnya adalah sebagai orang yang paling termuka di bidangnya kaum pandai ini sangat lazim untuk didayagunakan oleh kekuasaan. Terjalinnya simbiosa mutualistik yang pada gilirannya membuat intelektual melupakan tanggung jawab moralnya. Tak hanya sampai disitu. Dalam banyak kasus, para intelektual telah menjadi kekuasaan itu sendiri, bukan abdi kekuasaan lagi. Keadaan ini tentu tak jadi masalah selagi bisa bertugas sebagai benteng akal sehat. 

Pada kutub lain, Menurut  Julien Benda, intelektual yaitu segelintir manusia sangat berbakat dan yang diberkahi moral filsuf-raja. Mereka ini membangun kesadaran umat manusia. Berbeda dengan pemikir menara gading yang selalu memikirkan pribadi, menciptakan hal yang sulit di mengerti, bahkan mungkin okultisme. Intelektual sejati tetap dengan jati dirinya, digerakan oleh dorongan metafis dan prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Tak heran jika intelektual selalu berada di dalam barisan oposisi, dalam lembaran sejarah dikatakan bahwa seorang fenelon dan massilon menyatakan perang terhadap louis XIV, Voltaire mengencam kehancuran palatinate, Rena mengkritik tajam Napoleon, Nietzsche mengencam keberingasan Jerman terhadap Perancis. Sebagai orang yang tercerahkan mereka menguak kebohongan-kebohongan kekuasaan yang hendak berperilaku mendzalami warga negara.

Nabi Muhammad Intelektual

Pada abad ketujuh, Mekkah berada di tengah-tengah antara dua peradaban, idealogi, filsafat , sistem sosial, sistem hubungan masyarakat, struktur politik dan sistem sipil yang paling kuat. Senjata-senjata yang paling canggih dan modern pada masa itu di miliki oleh bangsa Persia dan Byzantium. Secara geopolitik Nabi Muhammad lahir di Mekkah merupakan langkah awal lahir peradaban baru dan sebuah bentuk perlawanan terhadap adikuasa timur dan barat.

Nabi Muhammad merupakan intelektual muslim yang telah berjuang untuk membumikan ajaran-ajaran langit dan mengangkat manusia dari lembah kejahilan dan kezaliman ke derajat yang telah membuat adam disujudi malaikat. Nabi Muhammad menyampaikan ilmu bukan hanya dengan berani tapi penuh hikmah dan sabar. Golongan belia yang waktu itu terdedah dengan tarikan hedonisme diberikan visi sosial dan idealisme yang lebih menarik dan bermakna. Nabi muhammad mampu menyadari waktu, keluar dari himpitan hari lalu, menemukan hari ini dan terus melangkah di masa depan. Dengan kesadaran dan bimbingan tuhan, nabi muhammad bergerak aktif dan kreatif. Peran aktif dalam menghadapi kenyataan itulah yang lantas menghasilkan sejarah dan kebudayaan secara dinamis.
Kecerdasan Nabi Muhammad baik sebelumnya maupun setelah menjadi rasul, tidak terbantahkan dengan bukti-bukti sejarah. Tidak saja dari kalangan muslim, tetapi juga para orientaslis non muslim mengakui bahwa beliau memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Tidak berlebihan jika Michael H.Hart dalam The 100, a Rangking Of the most Influential Persons In History, menempatkan Nabi Muhammad pertama seratus tokoh yang paling berpengaruh di dalam sejarah. Hart menulis bahwa jatuhnya pilihan pertama Muhammad SAW karena ia yakin, nabi umat islam itulah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik di tilik ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.


Intelektual Intelektual Reviewed by Ahsanulqurun on February 12, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads