Header AD

Dakwah Kultural Meretas Ekstremitas Keagamaan


Oleh : Anja Hawari Fasya 

Rasanya saya harus memulai tulisan ini dengan menyingkap makna tatharruf diniy (Ekstremitas keagamaan) di tinjau dari segi hakikat dan ciri-cirinya yang menonjol. Tatharruf. Dalam bahasa arab berati : Berdiri di tepi, jauh dari tengah. Pada mulanya, kata tersebut digunakan untuk hal-hal yang bersifat materil (inderawi), misalnya, jauh menepi dalam duduk, berdiri atau berjalan. Kemudian digunakan pula untuk hal-hal abstrak seperti menepi (melampui batas tengah) dalam agama, pikiran atau perbuatan. Di antara konsekuensi sikap ekstrem adalah lebih dekat kepada kebinasaan dan bahaya, serta lebih jauh dari keamanan dan kesentosaan.
Islam adalah jalan tengah dalam segala hal. Baik dalam hal konsep akidah, ibadah, perilaku, hubungan dengan sesama manusia maupun dalam perundang-undangan. Sikap tengah (moderat) merupakan salah satu ciri khas. Demikianlah kami jadikan kamu umat yang ‘pertengahan’ supaya  kamu menjadi saksi atas manusa (QS 2:143)
Nash-nash Islam  menyeru kepada i’tidal (sikap tengah, moderasi) dan melarang sikap berlebih-lebihan, istilah ini kerap disebut ghuluw (melewati batas), tanatthu (sok pintar, sok konsekuen, dan sebagainya) serta tasydid (mempersulit). Islam sangat tidak menyukai sikap demikian dan telah  memperingatkan dengan keras agar kita tidak menganutnya. Nabi saw bersabda, “Hindarkanlah darimu sikap melampui batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya”  (H.R. Imam Ahmad)
Fenomena yang kita rasakan masih ada sebagian masyarakat yang berperilaku ekstremis, mereka terjangkit gelombang fanatisme yang keterlaluan, sehingga tidak mau mengakui keberadaan agama dan pendapat orang lain. Islam state of Iraq and Syiria (ISIS) merupakan bukti konkrit kelompok yang berperilaku ekstremis dan terlampau keras.  Jika di tinjau dari cara pandang keindonesiaan, kelompok yang sedemkian ini akan sangat merusak keharmonisan dan ketentraman di negeri majemuk seperti Indonesia. Islam sangatlah menjungjung tinggi kebebasan, terutama kebebasan beragama. Setiap orang berhak memeluk agama dan aliran (madzhabnya) masing-masing. Tidak boleh di paksa untuk meninggalnya ataupun dilakukan penekan dengan cara apa pun agar berpindah ke agama islam.
Landasan hak ini ialah firman Allah Swt Tidak ada paksaan untuk memasuksi agama islam, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah (Al-Baqarah : 256)
Menurut Ibnu Katsir, tafsir ayat diatas artinya, jangan memaksa siapa pun untuk memeluk Islam, sebab sudah cukup jelas petunjuk-petunjuk dan bukti-buktinya sehingga tidak perlu ada pemaksaan terhadap seseorang untuk memasukinya.

Ada beberapa faktor mengapa orang menjadi ekstremis dan fundamentalis di masa kini, sebab di tengah kemajuan zaman yang merekatkan nilai-nilai, dapat dipahami jika ada sekelompok mencari nilai mutlak sebagai pegangan rohani dan sekaligus memberikan ketenangan di tengah dunia yang kian sekuler. Mereka jemu dengan berbagai jenis sains yang bebas nilai, tetapi asumsi mereka tidak pernah menjawab persoalan-persoalan mendasar dalam hidup. Kalangan ekstremis menolak bentuk pemahaman agama yang terlalu rasional, apalagi kontekstual, sebab bagi mereka yang demikian itu tidak memberikan kepastian. Maka dari itu, memahami teks-teks keagamaan secara rigit dan literalis merupakan alternatif yang mereka tonjolkan. 
Meneropong hal diatas, sedemikian harusnya ormas Islam di indonesia menampilkan wajah yang murni namun ramah, maju dan moderat sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran rahmat sekalian alam. Di samping itu, kita baiknya menampilkan bagaimana Islam menjadi tuan rumah di negeri ini, dimana Islam benar-benar menyatu dan mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia. Maka satu langkah yang ditempuhnya adalah membangun dakwah yang lebih manusiawi dan mudah diterima masyarakat. Dari sini nampaknya konsep dakwah kultural menjadi acuan yang tepat dan srategis untuk meretas jalan dakwah ekstremis yang lebih cenderung kaku dan terjerat saling mengkafirkan.
Dakwah kultural merupakan upaya menanamkan nilai-nilai islam dalam seluruh dimensi kehidupan, dengan memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai mahluk budaya secara luas dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Sedemikian adanya, sedemikian baiknya. 

Dakwah Kultural Meretas Ekstremitas Keagamaan  Dakwah Kultural Meretas Ekstremitas Keagamaan Reviewed by Ahsanulqurun on February 26, 2020 Rating: 5

2 comments

  1. Bismillah, kak. Boleh minta satu contoh implementasi dari dakwah kultural???

    ReplyDelete
  2. Membangun sekolah,rumah sakit dll. hal-hal yang berdampak nyata pada kehidupan sosial. Menyantuni anak yatim, memberi makan fakir dan miskin.

    ReplyDelete

Post AD

home ads