Header AD

Tentang Bahagia


Oleh : Anja Hawari Fasya

Tepat pada 17 Januari kemarin, saya baru saja putus cinta. Di usia yang ke 20 tahun ini, baru kali ini saya benar-benar merasakan sakit yang sedemikian mendalam. Nangis total dan melamun tak karuan yang saya lakukan dua hari ke belakang. Seperti lazimnya manusia dia tidak akan terlepas dari dua hal ; kebahagiaan dan penderitaan. Menurut Sigmund Freud manusia bergerak atas dua hal tersebut. Dia menganalogikan bahwa seseorang menikah sebab memandang pernikahan akan membawa dia pada tahap kebahagiaan, namun di samping lain kita menemui kasus perceraian di dalam rumah tangga di sebabkan adanya penderitaan.

Mula-mula, orang tidak akan memperhatikan ular kecil, lantaran kecilnya. Tetapi suatu kali dia telah mematuk tangan orang dan meludahkan bisanya, barulah orang ribut memperbincangkan ular, barulah orang takut dan menyingkirkan diri. Demikian pula hubungan cinta, kita harus tetap memikirkan pahit dan bahagianya. Ada orang berkata, "Penderitaan itu penting di dalam kehidupan" sebab salah satu cara meraih kebahagiaan. Sama hal nya pedagang, dia akan memiliki kisah rugi dahulu, barulah dia tahu rahasia keuntungan kelak.

Saya teringat kisah cinta filsuf melankolis bernama Soren Aabye Kiekergaard, salah satu penting dalam hidup dia adalah pertunangannya dengan Regina Oslen. Sekiranya tidak bertemu dengan gadis ini, mungkin kita tidak akan mendapatkan tilikan-tilikan filosofis Kiekergaard.  Dia sudah jatuh cinta kepada gadis ini ketika gadis ini berusia 14 tahun, dan empat tahun kemudian Kierkegaard yang berusia 27 tahun melamarnya. Semua orang menilai keduanya pasangan yang ideal, begitu juga perasaan keduanya.  Akan tetapi, sebelas bulan kemudian sesudah pertunangan itu, Kierkegaard memutuskan ikatan pertunangannya itu. Setelah pergumulan yang lama, ia menjadi yakin bahwa dirinya tidak cocok untuk kehidupan rumah tangga dan menyadari dirinya sebagai seorang manusia dengan misi khusus. Dalam perkawinan orang harus terbuka satu sama lain, padahal menurut Kierkegaard ada hal-hal sangat intim yang tak bisa diungkapkan kepada pasangan, maka ia membatalkan rencana perkawinan itu. Regina sangat kecewa tentu saja, tapi kemudian dia bisa mengatasinya dan hidup bahagia dengan laki-laki lain.

Regina oslen merupakan simbol dari kedewasaan, ia tidak bisa memprivatisasi kebahagiaan seseorang maka dengan ini saya banyak belajar ketika dirinya berkata " Aku berhenti Nja'.." meski terasa sakit dan kecewa, saya tidak bisa memprivatisasi kebahagiaan dia dan pilihanya. Jika regina oslen memilih kebahagiaan dengan cara mencari lelaki lain, saya lebih memilih kembali lagi dengan membaca buku, membaca buku membuat kita tidak merasa sepi dan sendiri, buku akan memberikan banyak pengetahuan dan informasi.

Saya ingat tentang Keunggulan observasi psikologis. Bahwa merenung tentang hal-hal manusiawi, salah satu sarana yang bisa di pakai manusia untuk meringankan beban hidup.  Dengan melatih ini, orang bisa menjamin kehadiran pikiran dalam situasi-situasi sulit dan hiburan di tengah-tengah lingkungan yang menjemukan. Bukan itu saja, bahwa dari frase paling penuh onak dan paling tidak membahagiakan kehidupannya seseorang bisa memetik peribahasa dan merasa sedikit lebih baik. Dengan ini, bisa lebih dalam penilaian atas peristiwa-peristiwa publik dan kepribadian.

Maka beruntung sekali saya mengambil langkah yang lumayan tepat, agar tidak berlarut-larut sedih segera kembali mengulas kisah orang lain, menangkap nilai yang sempat di lakukan orang, merenungi hal-hal yang bisa membuat bahagia. Kisah filsuf Soren dan Regina cukup membuat saya berpikir ulang mengenai rasa sedih yang mendalam dua hari ke belakang.

Kita mungkin pernah mengalami sakit akibat cinta, stress dan dibuat hampa tanpa kehadirannya. Kita harus bersyukur Tuhan anugerah kan stress. Pada masanya dalam upaya meningkatkan profesi pasar jasa profesional mereka, para psikologi, terutama Amerika serikat, menghadirkan trauma baru dalam kehidupan umat manusia abad XX, yakni yang di sebut dengan Stress. Stress  menjadi bagian kehidupan yang merisaukan, bahkan menakutkan bagi para insan "Modern". Barangsiapa yang tidak menderita Stress justru menganggap dan dianggap anakronis, ketinggalan zaman. Itulah sebabnya, berbagai seminar, kursus, buku , aneka jasa terapi psikologis, psikiatris yang membahas upaya membasmi stress laris di perjual belikan. Padahal, sungguh keliru apabila stress  justru di basmi ! Stress sebenarnya merupakan unsur mekanisme batiniah yang di samping wajar, justru secara hakiki dibutuhkan. Stress merupakan fenomena ketegangan batiniah yang memiliki fungsi mekanisme konstruktif terhadap manusia. Seperti hal nya listrik, tanpa ketenggangan justru tidak ada energi. Andai saja bangsa kita tidak stress akibat angkara murka G-30-S, maka tak akan muncul semangat orde baru yang dengan gemilang membangun Nusa dan Bangsa ! Mahakarya kesenian seperti kreasi musik Ki Nartosabdho, Syair Chairil, Rendra sampai Emha, film-film Ismail sampai Garin, semuanya lahir di bawah tekanan suasana Stress  dan saya pun semangat kembali menulis akibat stress yang sebegitu kuat.

Terima kasih Patah Hati

Tentang Bahagia Tentang Bahagia Reviewed by Ahsanulqurun on January 19, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads