Header AD

Sosok Wanita Yang Mulia


Oleh : Muhammad Al-Fudhel 

Khadijah Figur Wanita Sabar Nan Tegar
Wanita adalah makhluk Allah yang istimewa. Islam pun sangat memuliakan dan memperhatikannya dengan baik. Dalam naungan Islam, wanita memiliki kemuliaan dan kedudukan yang tinggi. Wanita memiliki peran penting dalam kehidupan beragama. Kemajuan dan kemunduran umat dewasa ini tak sedikit dipengaruhi oleh kaum wanita. Selain itu, wanita juga adalah partner bagi laki-laki. Mereka menjadi ibu yang penuh kasih sayang, saudari yang penuh perhatian, dan istri yang menjadi teman setia dalam kehidupan. Keberhasilan seorang laki-laki tidak pernah luput dari peran penting wanita di belakangnya.
Begitu pula dengan baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, di balik keberhasilannya beliau memiliki penyemangat seorang wanita. Siapakah wanita tersebut? Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid Radhiyallâhu ‘anha. Khadijah adalah seorang wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, beliau pula yang pertama masuk Islam. Beliau adalah istri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam yang teguh dan setia. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dalam berdakwah menyebarluaskan Islam di tanah Mekah, menguatkan Rasulullah, membantu, serta menolong dakwahnya dari keras-sakit gangguan yang ditimpakan orang Quraisy terhadap Rasulallah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Khadijah adalah seorang putri dari Khuwailid bin Assad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin al-Qurasyiyah al-Asadiyah, beliau mendampingi Rasulallah Shallallahu 'alaihi wasallam selama 25 tahun dalam perjalanan dakwahnya sebelum akhirnya beliau meninggal dunia tiga tahun sebelum hijrah, tepatnya pada hari ke-11 bulan Ramadhan tahun ke-10 dari kenabian. Beliau adalah wanita bangsawan, hartawan yang meninggal dalam keadaan serba kekurangan, karena beliau telah mengorbankan seluruh hartanya di jalan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Jasa beliau dalam perjuangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
Beliau adalah orang pertama yang meyakinkan dan menyiapkan segala perbekalan dakwahnya. Beliau merupakan wanita tangguh, sabar, dan tegar yang selalu setia mendampingi dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau korbankan kekayaan dan kedudukannya yang tinggi, dan itu sangat bermanfaat bagi penyebaran agama Islam. Sehingga, para ulama menyebutnya satu tokoh perempuan terbesar dari tiga tokoh. Dua perempuan lainnya yaitu Fatimah dan Aisyah.
Dalam kitab Al-Busyra karya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki diceritakan suatu hari ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kembali dari tugasnya menyiarkan Islam, Khadijah menyambut beliau, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu”.
Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Rasulallah Shallallahu 'alaihi wasallam mengambil Fatimah dari pangkuan Khadijah lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang lelah seusai pulang berdakwah serta dihiasi dengan segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah.
Beliau pun terjaga.“Wahai Khadijah! Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?” Tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" Lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.
“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangisi." Jawab Khadijah."Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan, kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya”.
"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit  ataupun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.
Peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat memukul perasaan Rasulallah Shallallahu 'alaihi wasallam. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika itu, karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat. Para ulama menyebut tahun itu dengan sebutan Âmul Huzni.
Begitulah kisah haru wanita yang sangat berjasa dalam agama ini. Siti Khadijah rela mengorbankan seluruh kekayaannya, dan menjatuhkan kemuliaannya di hadapan manusia, demi tersebarnya risalah yang dibawa oleh Rasulallah Shallallahu 'alaihi wasallam yang merupakan amanah dari Allah Subânahu Wata’âla. Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan seluruh umatnya. [Muhammad al-Fudhel]       

Sosok Wanita Yang Mulia Sosok Wanita Yang Mulia Reviewed by Ahsanulqurun on January 31, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads