Header AD

Sang Sastrawan



Oleh Muhammad Al-Fudhel 

Muhammad bin Idris As-Syafi’i
Islam telah sempurna dan petunjuk jalan hidup pun sudah jelas. Namun sedikit sekali di antara kita yang mengetahui bahwa banyak sekali umat terdahulu yang berperan dalam kemajuan Din ini. Dan mereka semua memiliki kelebihan dan kisah hidup inspiratif. Di bidang ilmu ushuluddin ada seorang yang memiliki peran sangat penting, beliau ialah Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i  W 204 H.
Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i  atau yang dikenal dengan sebutan Imam as-Syafi’i, beliau terkenal dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya semenjak kecil. Beliau menceritakan tentang dirinya, "Aku berada bersama para pencatat kitab, disana aku mendengar ustad sedang mengajari ayat Al-Qur'an pada anak-anak kecil, maka aku langsung dapat menghafalnya. Dan sebelum ustadz tadi selesai mendikte ayat pada mereka, aku telah menghafal semua yang didiktekan tadi.” Dan dia senantiasa dalam keadaan seperti itu sampai dirinya mampu menghafal al-Qur'an sedang beliau saat itu berusia tujuh tahun.
Kecerdasan Imam As-Syafi’i
Sebagian ulama terkemuka di Irak iri kepada Imam Syafi’i. Imam Syafi’i mendapatkan hati para pencari ilmu, sehingga mereka hanya mau bermajlis dengan beliau, mereka hanya mau tunduk terhadap pendapat dan ilmu beliau. Oleh karena itu, para ulama yang iri terhadap Imam Syafi’i bersepakat untuk membuat tipu daya. Mereka membuat tipu daya terhadap Imam Syafi’i, karena beliau lebih unggul daripada mereka dalam segi ilmu dan hikmah.
Tipu daya tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan rumit dalam bentuk teka-teki. Dengan tujuan lain untuk menguji dan menjatuhkan wibawa beliau, karena mereka menguji Imam Syafi’i di hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid yang sangat kagum terhadap beliau dan sering sekali memuji Imam Syafi’i. Diantara pertanyaan tersebut adalah, “Bagaimana pendapatmu tentang seorang yang menyembelih kambing di rumahnya kemudian dia keluar untuk suatu keperluan, lalu dia kembali lagi lantas berkata kepada keluarganya, ‘Makanlah kambing ini. Sungguh kambing ini haram bagiku.’ Keluarganya pun berkata, ‘Demikian juga haram bagi kami.’ Kemudian Imam Syafi’i menjawab, “Sesungguhnya laki-laki tersebut orang musyrik. Dia menyembelih kambing atas nama berhala, lalu dia keluar untuk suatu keperluan, dan ternyata Allah Ta’ala memberi hidayah kepadanya untuk memeluk agama Islam. Maka, kambing tersebut haram baginya. Ketika keluarganya tahu bahwa lelaki tersebut telah masuk Islam. Maka, mereka pun ikut masuk Islam. Dan kambing tersebut, juga diharamkan atas mereka.”
Dengan beberapa pertanyaan sulit laksana teka-teki yang mampu dijawab oleh Imam Syafi’i, Khalifah Harun ar-Rasyid yang ikut hadir dalam diskusi tersebut tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Imam Syafi’i. Khalifah berkata, “Alangkah hebatnya keturunan Bani Abdi Manaf ini, sungguh engkau menjelaskan dengan sebaik-baiknya, engkau menafsirkan dengan sejelas-jelasnya, dan engkau membuat redaksi dengan fasih”.
Lalu Imam Syafi’i mendo’akan Sang Khalifah semoga Allah Ta’ala panjangkan umurnya. Kemudian Imam syafi’i mengajukan satu pertanyaan kepada para ulama yang iri dan telah menguji beliau, yang bilamana mereka bisa menjawabnya Alhamdulillah. Akan tetapi jika mereka tidak bisa menjawabnya Imam Syafi’i meminta kepada Khalifah untuk mencegah mereka terhadap Imam Syafi’i. Khalifah Harun ar-Rasyid pun menyetujuinya.
Kemudian Imam Syafi’i bertanya kepada para ulama, “Ada seorang laki-laki wafat meninggalkan 600 dirham. Saudara perempuannya hanya memperoleh satu dirham saja dari harta peninggalan tersebut. Bagaimana cara pembagian harta warisan ini?” Ternyata para ulama tersebut saling berpandangan satu sama lain cukup lama. Tidak ada satupun di antara mereka mampu menjawab pertanyaan tersebut. Keringat pun bercucuran dari dahi mereka.
Ketika mereka terdiam cukup lama, maka Khalifah mencukupkan waktu untuk berpikir mereka, dan menyuruh Imam Syafi’i unutuk memberikan jawabannya. Imam syafi’i menjawab sendiri pertanyaannya, “Laki-laki tersebut wafat meninggalkan dua orang anak perempuan, ibu, seorang istri, dua belas anak laki-laki, dan seorang saudara perempuan. Jadi dua anak perempuan mendapatkan dua pertiga, yaitu sebesar 400 dirham, ibu mendapat bagian seperenam, yaitu sebesar 100 dirham, istri mendapat bagian seperdelapan, yaitu sebesar 75 dirham, kedua belas anak laki-laki mendapat 24 dirham dan tersisa satu dirham untuk saudara perempuan.” Khalifah kagum dengan jawaban Imam Syafi’i.
Imam Syafi’i Sang Sastrawan
Sejak kecil beliau telah akrab dengan sya’ir. Ia bahkan mempelajari sya’ir-sya’ir. Setelah itu Syafi’i kecil mengalihkan perhatiannya. Ia mulai bersafari demi menemui guru-guru untuk bertalaqi ilmu dan prinsip dalam agama. Meski demikian, beliau tidak lupa atau meninggalkan perhatiannya terhadap sya’ir, beliau sesekali melantunkan sya’ir di sela-sela belajarnya.
Sya’ir-sya’ir beliau sangatlah sederhana, tidak berbelit serta ringkas. Sehingga sangat mudah untuk dihafal karena bersinggungan dengan tema yang teraktual di zamannya. Penguasaan kosa kata yang baik, tidak membuat beliau bermai-main dengan kalimat, justru beliau meraciknya dengan kedalaman ilmu fikihnya sehingga menghasilkan hikmah yang mudah diingat.
Di antara karya sastra beliau adalah :
Andai puisi tidak mengkerdilkan arti keulamaan
Maka hari ini sya’irku lebih hebat dari labid
Pasti melebihi keberanian yang lebih dahsyat
Daripada singa dalam perang
Keluarga Muhallab dan bani Yazid
Andai pula tidak takut pada Tuhan
Tentu semua orang ku anggap suruhan
Sya’ir Imam Syafi’i sangat populer di kalangan ulama, pelajar, dan mahasiswa karena beberapa hal. Pertama, semua kalangan tidak meragukan kepakarannya dalam bidang sastra, terutama karena masa mudanya fokus untuk belajar sastra secara penuh. Kedua, pengakuan para ahli Bahasa dan pengakuannya di bidang sastra, menjadikan beliau sebagai imam sastra. Ketiga, kesederhanaan dan kemudahan bentuk kalimat menjadikan sya’irnya gampang diingat, mudah dipelajari, ringan diterapkan, dan tak sulit untuk diucapkan. [Muhammad al-Fudhel]


Sang Sastrawan Sang Sastrawan Reviewed by Ahsanulqurun on January 31, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads