Header AD

Islam dan Keterbukaan


Oleh Anja Hawari Fasya

Dapat dipertanyakan bahwa realitas dunia Islam dewasa kini ; kekerasan, perang sipil, penculikan, pembajakan, penyiksaan, pembunuhan dan lai-lain adalah sangat jauh dari keinginan yang digambarkan di atas : Islam sebagai agama damai dan merupakan kode etik umum. Miskinnya pandangan mengenai jihad merupakan benih-benih terjadi kekerasan serta teror di beragam negeri. Dari seluruh tema dan konsep Islam, "Jihad" paling banyak disalah tafsirkan dan diputar balikkan secara tidak hati-hati oleh orang-orang non muslim dan juga kaum muslim Apologetik. Kalau kita perhatikan implementasi jihad yang dikumandangkan oleh para jihadis dalam dekade terkahir ini juga belum memperlihatkan ada sinyal ke arah menciptakan Islam rahmatan Lil Al-Amin. Sebaliknya, sebagaimana diungkapkan oleh Yusuf Qardhawi, bahwa masih banyak kalangan ulama yang memberi makna jihad hanya perang, sehingga dapat kita temukan umat sekarang dimama-mana saling bermusuh-musuhan secara terus menerus baik antara muslim dan non muslim maupun sesama muslim. Demikian juga konflik perang yang dibangun oleh mereka tidak terlihat kemudian membangun peradaban Islam, bahkan sebaliknya telah mengakibatkan kemunduran baik dari sisi peradaban yang mampu mengangkat derajat ekonomi, sosial dan ilmu pengetahuan maupun dari sisi moral kehidupan sehari-hari.
Menurut Gus Dur, lahirnya kelompok-kelompok Islam garis keras atau radikal tersebut tidak bisa dipisahkan dari dua sebab. Pertama, para penganut Islam garis keras tersebut mengalami semacam kekecewaan dan alienasi karena “ketertinggalan” ummat Islam terhadap kemajuan Barat dan penetrasi budayanya dengan segala eksesnya. Karena ketidakmampuan mereka untuk mengimbangi dampak materialistik budaya Barat, akhirnya mereka menggunakan kekerasan untuk menghalangi ofensif materialistik dan penetrasi Barat. Kedua, kemunculan  kelompok-kelompok Islam garis keras itu tidak terlepas dari karena adanya pendangkalan agama dari kalangan ummat Islam sendiri, khususnya angkatan mudanya.
Adanya pendangkalan agama terhadap angkatan muda terkhusus penyebaran Islam menggunakan jalur kekerasan merupakan tindakan yang harus dilawan. Anak muda yang seharusnya diberi  pemahaman optimisme memandang masa depan, tak sedikit justru terkapar meninggal bom bunuh diri mengatas namakan Islam. Islam telah memberi kita bimbingan untuk memecahkan masalah-masalah duniawi dengan tidak mengorbankan prinsip-prinsip solidaritas Islam (Ukhuwah al islamiyyah).
Allah berfirman dalam surat Al-Imran ayat 103 sebagai berikut :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.


Surat Al Anfal ayat 46
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Surat An-Nisa ayat 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
 
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Akhirnya, masa depan Islam dan kontribusinya kepada peradaban dunia, kehidupan nasional dan regional, akan bergantung kepada kebijaksanaan kita.  Di samping lain, Islam rahmatan lil alamin kita tidak boleh hanya berhenti pada moderasi dan toleransi semata, meninggalkan nilai-nilai keprogresifan.

Umat Islam sudah saatnya kembali kepada fitrahnya sebagai umat yang terbuka dan memiliki spirit tradisi keilmuan. Semangat inilah yang membawa Islam pada puncaknya peradaban ilmu pengetahuan, dalam hal ini barangkali kenyataan tentang masyarakat Islam masa lalu yang amat perlu ditekankan pembicaraannya ialah semangat keterbukaannya. Semangat keterbukaannya itu adalah wujud nyata rasa keadilan yang diemban umat Islam seb
agai ‘’umat penengah’’ (ummah wasath). Jika ditinjau dari letak geografis, Islam sebegitu didukung oleh letak geografis Heartland daerah kekuasaannya ‘’Timur Tengah’’ yang membentang dari Sungai Nil di Barat sampai ke sungai oxus di Timur. Daerah pusat kelahiran peradaban manusia, yang oleh orang-orang Yunani kuno disebut daerah Oikoumene. Islam dilukiskan oleh Dermenghem, memiliki dasar-dasar sebagai ‘’agama terbuka’’ dan menawarkan nilai-nilai permanen yang darinya seluruh umat manusia dapat memperoleh faidah. Sebagaimana halnya, dengan semua agama dan sistem moral, Islam juga memiliki hal-hal ‘’parametris’’ yang tidak bisa diubah.
Semangat keterbukaan itu telah melahirkan sikap-sikap positif orang-orang muslim klasik terhadap kebudayaan asing yang sekiranya tak bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Islam, khususnya terhadap ilmu pengetahuan, karena sikap orang muslim yang positif terhadap berbagai kebudayaan bangsa-bangsa lain, maka peradaban Islamlah yang pertama kali menyatukan khazanah bersama internasional dan kosmopolit.

Sudah saatnya narasi keterbukaan Islam dikumandangkan kembali, suara itu harus senantiasa menggema agar sifat ketertutupan segera berhenti. Kita menyadari taklid buta adalah orang yang tidak dapat mengubah pikirannya dan tidak akan mengubah topik pembicaraannya.

Islam dan Keterbukaan Islam dan Keterbukaan Reviewed by Ahsanulqurun on January 16, 2020 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads