Header AD

Hypatia


Oleh Anja Hawari Fasya

Di sebuah taman kering hijau duduk seorang lelaki manis bernama Lubis. Lubis melamun serius ke arah pohon dekat sungai yang airnya sedemikian bening keruh. Burung-burung berkicau dengan suara serak, awan mendung cerah datang silih berganti menyapa Lubis yang mulai karam ditelan lamunan.

‘’Kau tahu Hypatia disini aku merasakan kenyamanan? Di taman kering hijau inilah aku menemukanmu.’’ Ujar Lubis sambil tersenyum linu mengenang masa lalu.
Hypatia adalah si gadis bola mata indah dan suara paling merdu yang Lubis temukan, Lubis sebegitu mencintai gadis berambut pirang yang satu ini. Kata ibu Lubis, Hypatia itu diambil dari nama seorang tokoh filsuf perempuan terkenal pada zaman romawi. Matematikawan, astronom yang tinggal di daerah Alexandaria. Dan benar nama adalah sebuah doa, selain memiliki mata yang indah dan suara merdu Hypatia pun Tuhan anugerahkan kecerdasan yang luar biasa. Seperti sebuah alunan musik melodi memoar itu berputar begitu saja dalam pikiran Lubis mengenai banyak hal tentang Hypatia kala itu.

**
Suatu pagi buta, Lubis dan Timur pergi ke taman kering hijau. Timur memandang ke timur, Lubis memandang ke barat mereka berdua mencari jawaban yang selama ini menghantui pikiran mereka perihal ’’sebelah manakah matahari terbit’’ Akhirnya mereka berjanji untuk sama-sama membuktikannya.
Dari kejauhan Timur melihat seorang wanita lari menghampiri ke taman kering hijau, dia berteriak lantang seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Timur… Sedang apa kau disana? Teriak hypatia.
Hey Tia,, kami sedang membuktikan bahwa matahari akan terbit di timur.” Jawabnya saat Hypatia sudah dekat menghampirinya.
Timur bertanya heran mengapa Hypatia datang ke taman kering hijau pada pagi buta pula.
“Lalu kenapa kau pun datang ke taman kering hijau pagi sekali Hypatia?
Sambil tersenyum manis hypatia menjawab ‘’Aku hanya ingin menghirup udara pagi saja.’’ Katanya singkat.

Lubis tersenyum heran, hatinya bertanya-tanya ‘’Kau datang ke taman hijau kering hanya untuk menghirup udara segar ?”
‘’Tentu tidak, aku kemari karena melihat kau datang kemari.’’ Ujarnya.
‘’Ohya, Timur, siapa ini? Tanya Hypatia.
‘’Oh dia kawanku, kenalkan…’’
Tangan Hypatia dan Lubis bersentuhan saling memperkenalkan diri.
‘’Hahaha nama yang aneh, Lubis. Pasti kau bukan dari daerah kami ?’’ Tanya Hypatia.
‘’Tentu bukan..aku dari desa darma nun jauh di negeri sebrang.’’
‘’Lalu bagaimana kau bisa sampai kesini dan sebegitu dekat dengan Timur?
‘’Kemanusiaanlah yang menyatukan kami’’

Hypatia tertawa dan membenarkan apa yang dikatakan Lubis.
Fajar bersinar terang dari arah timur, Timur melihat tajam ke arah timur, dan terbukti benar bahwa matahari terbit dari arah timur.

‘’Lihatlah Lubis, matahari itu terbit dari sebelah timur bukan barat’’
“ Darimana kau tahu itu arah timur?’’ Tanya Lubis.
‘’Dari matahari itu yang muncul tadi, aku beranggapan itu timur. Kau harus ingat lubis kita ke sini membuktikan apa yang orang tua katakan matahari itu muncul dari timur.’’
‘’Hahaha tak bisa ! Kita harus meragukan itu timur, jangan-jangan itu bukan timur.’’ Ujar Lubis.
“Jangan-jangan itu barat’’
Mereka pun akhirnya tertawa. Hypatia bingung sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Lubis diam-diam rupanya menyukai wajah kebingungan yang Hypatia tunjukan.  
‘’Kalian tahu sejarah taman ini mengapa di beri nama taman hijau kering?’’ Tanya Hypatia.
Timur seketika menatap Lubis isyarat agar dirinya yang menjelaskan kepada Hypatia tentang taman kering hijau ini.
“Haha, kurasa Lubis lebih pandai dalam  pemahamannya tentang sejarah.” Hypatia mengalihkan pandangannya terhadap Lubis. Riuh angin menyapa sejenak membuat rambut pirang gadis di hadapan mereka melambai tertiup angin.
“Dulu, sejarahnya disini pernah ada pertempuran yang mengerikan. Bangsa kami di bunuh dan di bakar hidup-hidup, di taman ini pula kami memenangkan pertempuran.’’
‘’Lalu apa kaitannya dengan taman hijau kering ?’’
‘’Hijau itu lambang kesejukan dan kemenangan, sedang kering melambangkan kekalahan dan kobaran api yang membakar puluhan mayat.’’
‘’Cerita yang begitu asyik dan memilukan.’’ Hypatia menarik simpulnya sendiri. Matanya tajam memandang luas ke hamparan taman kering hijau, seperti sedang memikirkan suatu hal.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Tia?” Timur menatap curiga pada Hypatia. “Sepertinya begitu serius, sampai-sampai matamu memicing tak terlihat. Kau sedang memikirkan bagaimana kalau kelak terjadi pertempuran lagi ya, dan aku kamu satu-satunya yang selamat dan bahagia.” Lubis tertawa kecil mendengar lelucon Timur yang begitu aneh. Hypatia justru menatap sinis wajah Timur yang tirus dengan bola matanya yang tajam.

“Kau memang yang paling pandai berimajinasi, Timur. Sejak kapan aku bersamamu bisa bahagia. Yang ada setiap bertemu kau selalu merepotkan dan membuat masalah.” Hypatia meninju kecil pundak Timur, namun ia hanya menghindar. Akhirnya mereka berdua saling kejar mengejar mengelilingi kecil taman kering hijau yang mulai ramai pengunjung itu, Lubis hanya bisa menyaksikan tingkah kekanakkan mereka sambil duduk dengan wajahnya yang masih dibalut kagum atas kehadirannya Hypatia.

“Aaa..” Hypatia tersandung. Entah mengapa bisa kakinya menginjak kerikil-kerikil yang membuatnya tak dapat menahan keseimbangan. Sontak saja Lubis menghampirinya dan mengulurkan tangan untuk membantu Hypatia berdiri.
“Kau tak apa?” Hypatia hanya mengangguk.
Setelah mereka menghentikan candaan mereka, barulah Hypatia menyampaikan maksud yang baru saja terpikir olehnya.
“Aku tak salah kan, memang benar kau selalu membuat masalah.” Sejenak Hypatia mengomel.
“Kau saja yang begitu ceroboh, larimu seperti anak kecil saja, tidak memperhatikan jalan.” Timur membela diri.
“Ekhmmm.. Jadi, tadi yang kamu maksud apa Tya?” Lubis bertanya berusaha menengahi.
“Jadi, tadi itu aku terpikir bagaimana kalau kita membuka sebuah taman baca di sini, itu akan mengasyikkan bukan?” Jari telunjuknya mengacung ke atas menandakan sebuah semangat baginya.
Yapps.. Ide yang sangat briliant.” Lubis menyahut setuju. Timur hanya diam saja. Namun matanya memutar-mutar terlihat berpikir.
“Kau tak setuju, Timur?” Hypatia bertanya.
“Bukankah lusa pun kau sudah berangkat lagi ke kotamu, Bis?” Pertanyaan Timur membuat Lubis menghela nafas sejenak. “Lagipula kita sibuk. Tidak ada waktu hanya untuk sekedar membuat taman baca di sini, Ty.” Lanjutnya.

“Baru saja aku bertemu, namun harus dihadapkan dengan sebuah perpisahan kembali.” Sesal Hypatia. Terlihat wajahnya menandakan sebuah kekecewaan.
“Masih ada esok hari, kenapa harus bersedih?” Lubis tersenyum menenangkan.
“Kau lupa, Bis. Besok kita kan mau menghadiri Agung wisuda di kampusnya.”
“Ya sudahlah, lagipula itu hanya yang terpikir olehku barusan, bukan rencana besar yang harus terlaksana.” Hypatia tersenyum begitu girang. Lubis seperti tak dapat melihat sedikitpun celah kesedihan dan kekecewaan yang ada pada dirinya.
***
Hypatia begitu tekad dengan rencananya yang terpikir sehari yang lalu, sebenarnya kemarin bukan dengan sengaja ia pergi ke taman kering hijau hanya untuk bertemu Timur dan Lubis, Hypatia memang terbiasa berolahraga dan berakhir di taman kering hijau untuk memakan telur gulung kesukaannya itu.

Sebagai mahasiswi yang mengambil jurusan arsip dan kepustakaan, maka bagi Hypatia membaca bukan lagi soal hobi dan kesukaan, tapi merupakan asupan gizi yag harus senantiasa mengisi kepalanya setiap hari. Tak heran, jika ia memiliki banyak sekali buku di rumahnya, hingga berak-rak buku berjajar di samping kamarnya. Bersama dengan temannya bernama Aluna, hari ini mereka pergi menuju  taman kering hijau untuk membuka sebuah taman baca.

Saat mereka telah  sampai di sana, Hypatia sedikit melebarkan matanya untuk melihat apa yang ada di depannya. Baginya ini kejutan yag tak terduga.
“Lubis?”
“Hey, kamu sudah datang, Tya. Bagaimana? Kau lihat, kini taman kering hijau bukan hanya memiliki sejarah yang memilukan. Hari ini kita yang akan merubah semuanya.” Hypatia tak dapat lagi membendung senyumannya, entah mengapa ia merasa begitu bahagia bahwa rencananya kali ini telah berhasil. Lebih dari itu, Hypatia merasa bahwa kebahagiaannya bukan sepenuhnya untuk itu, justru bersumber pada kehadiran sosok yang berdiri gagah di hadapannya. Sebuah rak sederhana yang tersusun dari kayu-kayu itu dipenuhi oleh berbagai macam buku dan di beberapa celah diselipi beberapa pot yang berisi bunga hingga menambah keindahan dan ketertarikan minat untuk setiap orang datang mengunjungi.

“Dia siapa, Ty. Sepertinya aku baru lihat.” Aluna yang hamper saja terlupakan akhirnya bertanya.
“Oh iyaa, dia temannya Timur, Lun. Sedang berkunjung ke sini. Oh ya, bukannya kamu mau menghadiri wisudanya Agung?” Tatapannya teralihkan kembali pada Lubis.
“Aku akan menyusul nanti. Jangan khawatir.” Jawab Lubis begitu tenang.
Suasana taman kering hijau memang tak begitu ramai, namun tak sedikit yang mau melihat-lihat buku-buku yang disajikan Lubis untuk kemudian dibaca sambil meikmati air sungai yang dikelilingi oleh beberapa pohon cemara. Di sela-sela kesibukan memerhatikan para pengunjung dan sesekali menjelaskan beberapa hal mengenai buku kepada mereka, Lubis menyempatkan sejenak bicara.
“Kau tahu, Tya.”
“Ya?”
“Hal pertama yang terpikir olehku saat menginjak taman kering hijau ini adalah keinginan dalam hatiku untuk bisa membuka sebuah taman baca sederhana. Aku tak mengira kalau kaupun akan berpikiran hal yang sama.” Hypatia tersenyum kecil.
“Bukan hal yang penting untuk dikatakan sekarang.” Ucapnya dengan senyum yang memamerkan gigi-gigi mungilnya.
“Maksudmu?”
“Aku lapar. Kalau kau memang hendak berterimakasih untukku.” Hypatia menatap warung kecil yang di sampingnya terdapat gerobak bertuliskan Telur Gulung Manoa. Lubis sedikit heran.
“bukankah semestinya kebalik? Siapa yang hendak berterimakasih pula.” Lubis sedikit mendelik. Namun, setelah itu ia tertawa kemudian diikuti dengan Hypatia yang tawanya semakin lebar.
‘’Hypatia kau pernah merasakan jatuh cinta ?’’
‘’Cinta ? aku baru mendengar kalimat itu.’’ Jawab hypatia
‘’Cinta itu hal terbesar di alam semesta’’
‘’Benarkah ? Aku kira hanya matahari yang lebih besar di alam semesta ini.’’
‘’Dimana letak cinta ? Aku benar-benar ingin melihatnya’’
Lubis menatap indah mata Hypatia, dia merasakan ada suatu getaran dalam hatinya.
‘’Di sini Hypatia..’’ Tunjuk Lubis ke arah dada.
Hypatia tersenyum lembut. Seakan mengerti apa yang telah dimaksud oleh Lubis. Namun, ia berusaha tak menghiraukannya. Karena tepat pada saat itu juga telur gulung yang sedang ia makan jatuh ke tanah.
**
Hari itu berlalu begitu saja. Mereka baru selesai mengemas seluruh buku saat matahari mulai beranjak ke arah barat. Aluna sudah pamit sedari siang karena ia harus mengambil kelas kuliahnya.
“Besok kamu kembali ke kotamu?”
“Aku berharap sih bisa lebih lama lagi di sini. Mungkin minggu depan aku baru akan pulang. ” Hypatia haya menjawab dengan sebuah anggukan kecil. Ada sedikit kebahagiaan yang bercampur dengan kegundahan. Akankah secepat itu ia kehilangan?
“Ohya,, btw, makasih ya, untuk hari ini. Dan juga, seharusnya kau tak perlu menemaniku hingga sore, kau jadi tak menyaksikan Agung wisuda.”
“Bukan apa-apa. Itu hanya alasan Timur saja, agar aku tak bisa bertemu denganmu. Sebenarnya, Timur banyak sekali cerita tentangmu padaku. Tya yang periang, Tya yang suka melakukan banyak hal, Tya yang penyayang dan pandai, suka sekali membaca, jugaa Tya dengan senyuman yang begitu manis. Ingin sekali aku bertemu dengan teman yang dimaksud oleh Timur itu. Dan akhirnya aku bisa bertemu dengan orang itu langsung hari ini. Eh bukan hari ini, tapi kemarin.”
Hypatia sejenak mematung. Lalu, ia berucap begitu pelan.
“Kurasa bukan juga kemarin.”
“Lalu..?” Lubis dibuatnya penasaran.
“Saat ibumu memberi namamu Lubis dan ibuku menganugrahiku nama Hypatia, saat itulah tergurat takdir antara kita, saat dimana kita bertemu dalam harapan kedua orang tua kita.” Suasana menjadi hening setelah Hypatia mengatakan hal itu. Lubis tersenyum simpul dan menatap Hypatia dengan tatapannya yang tak mampu ia artikan.
“BHAHAHAH..” Tak lama kemudian, tawa Hypatia meledak.”Serius bangett kamu, Bis. Aku hanya mengarang saja. Aku ini tak pandai berkata-kata manis. Sudahlah, ayo pulang.” Hypatia berjalan sedikit berlari meninggalkan Lubis yang masih terenung. Dalam tawanya  ada berbagai rasa yang sebenarnya berusaha Hypatia sembunyikan.
Semoga saja memang begitu. Doa Lubis dalam hati.

**
16.40
Sore ini, Lubis berangkat dari pelabuhan bandara, dia menunggumu, katanya ada hal yang harus dikatakan padamu.

Selama mata kuliah berlangsung. Hypatia terus saja memandangi jam tangan mungilnya. Ia seperti seorang buruan yang sedang dikejar-kejar oleh waktu. Sambal terus berdoa dalam hati berharap pembelajaran segera selesai. Hatinya begitu gelisah.
Tak dapat lagi menunggu. Hypatia akhirnya memilih izin untuk keluar dan langsung meninggalkan kampus secepat yang ia bisa. Hypatia tak begitu yakin apa sebenarnya yang membuat ia bisa sebegitu berjuang untuk bisa bertemu dengan Lubis. Mengapa sebuah rasa tak mudah diakui dengan mudah. Mengapa harus melewati berbagai ujian dan perjuangan baru akan menyadari bahwa ternyata bagi ia Lubis begitu sangat berarti.
Sesampainya di pelabuhan, dengan mata yang begitu jeli, ia berusaha menemukan sosok itu. Hampir saja mata itu mengeluarkan butiran air yag sedari tadi sudah mengumpul dalam kelopak matanaya, jika saja Timur tidak segera menghampiri.
“Tya!”
“Timur. Lubis mana?”
“Dia sudah berangkat. Baru saja.”
“Kenapa kamu tidak mengabari sedari pagi. Kenapa begitu mendadak. Kamu sengaja ya, biar aku tidak bisa menemui Lubis.” Kini Hypatia tak dapat lagi menahan tangisnya dan melampiaskannya pada Timur.
Timur hanya tersenyum menanggapi. Baginya, tangis itu seperti tangis anak kecil yang kehilangan mainannya.
“Sebegitu takutnya kamu kehilangan Lubis?” Hypatia tak menjawab. Ia kemudian hanya menunduk dan menghapus air matanya. “Tadi Lubis bilang, katanya kamu jangan sedih.” Lanjut Timur.
“Itu saja?” Tany Hypatia. Suaranya begitu pelan.
“Yaappp. Mau apalagi.” Timur berlalu meninggalkan Hypatia. Bukan ia tidak peduli, ia hanya ingin tahu apa yang akan Hypatia lakukan setelah ini. “Ohiya, Lubis pulang karena ibunya sakit.”
**
Semburat melembayung menghiasi seluruh taman kering hijau. Hypatia baru saja datang. Ia hanya ingin berusaha menetralkan pikiran. Bahwa sebenarnya ia tidak sedang merasa kehilangan.  Saat ia hendak duduk di sebuah kursi di bawah pohon cemara itu, ia melihat ada sebuah bunga bertengger begitu saja tanpa tahu siapa pemiliknya. Ia mengambilnya lalu mengambil secarik kertas yang ada di dalamnya.


Tya, kaupun tahu bahwa ini adalah bunga aster.
Bunga ini lahir pada September. Sama halnya dengan pertemuan kita yang sederhana. September akan selalu mengingatkanku padamu. Bunga Aster memiliki filosofi sebagai keyakinan, kebijaksanaan, dan keberanian. ASTER ini berasal dari Bahasa Yunani, yang berarti bintang. Tepat seperti saat kau membacanya, semburat merah itu perlahan menghilang, menenggelamkan siluet kesedihan, dan lahirlah bintang. Lewat bunga ini, pesan yang ingin kusampaikan hanyalah sederhana. Sebagaiman keyakinan membuatmu bertahan, kebijaksanaan yang membuatku mampu mengambil keputusan dan keberanian untukku, juga untukmu. Keberanian untuk menunggu. Maka, dengan bekal ini, ‘Jagalah dirimu, untukku.’
Aku akan kembali.
-Lubis


**



Hypatia Hypatia Reviewed by Ahsanulqurun on January 28, 2020 Rating: 5

4 comments

  1. Based on true story yak bung wkwk, kek kenal sama nama nama tokohnya deh..
    Beginilah kalo anak filsafat yang nulis, pengantarnya saja perdebatan tentang timur dan barat 😅

    Ditunggu tulisan berikutnya..
    Semangat nulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih psikater .... Sesederhana itu, dan tentu itu (menunggu).

      Delete

Post AD

home ads