Header AD

Bukan Salah Kasur





Oleh: Farhan Ibrahim

**

Langit di penghujung malam masih gelap tapi nampak indah, terlihat bulan purnama yang menghangatkan bumi dan bintang-bintang yang berceceran, membuat pemandangan malam semakin sayup melembut sukma.
Sekilas pandangan mata mencuri keindahan dari luar jendela untuk melihat jarum jam menunjukan pukul 02:20. Terasa dingin angin yang berhembus menusuk pori-pori kulit dan tulang belulang, membuat tubuh tak mau lepas dari lembutnya selimut dan empuknya kasur.
Namaku Muhammad Syahdad, biasa dipanggil Syahdad baru duduk di bangku SMP kelas 8, aku suka menggambar di asrama, apalagi kaligrafi, karena aku suka tulisan yang bisa diukir hingga berbagai bentuk, tak jauh juga dalam membacanya dan sekarang aku sedang berjuang serta mempunyai target dalam mengingatnya karena termotivasi oleh seorang ustadz.
“Ah, ayo…Allahumma paksain,” sahutku dalam hati.

Batinku berkecamuk antara bangun dan tidak. Namun kupaksakan tubuh untuk bangkit dari bungkusan selimut yang begitu lembut dan beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, lalu shalat dan dilanjut menghafal Al-Qur’an untuk mengejar target yang telah aku azzamkan. Tapi sungguh aneh, ketika aku di kamar mandi ada percikan air seperti gerimis masuk ke dalam dan ada yang menyahut-nyahut namaku tapi tidak jelas.
“Syahdad…dad…dad…ba…ngun,” dengarku tak jelas.

Sangat aneh dan sungguh aneh, apakah ini benar benar gerimis…? Ataukah shower baru di kamar mandi asramaku? Ah…tidak mungkin, coba aku lihat ke atas, mungkin memang benar shower baru untuk kamar mandi asramaku, tapi ketika aku tengadahkan pandangan ke atas, tiba-tiba…bukan gerimis lagi, tapi……..…


“AAAAH TIDAK…............. !!!!!!!”

“Satu,dua,tiga…SIRAAAMMMM.” Teriak teman-temanku membangunkan dengan segayung air.

“Allahuakbar…!!! Ada apa ini…? Kenapa kalian…?Aku teperanjat kaget dengan siramannya yang mungkin bisa membuat jantungku copot karenanya. Bantalku basah, aku cari jam tanganku, apakah benar aku bangun jam dua? jika benar, maka target pertamaku hari ini tercapai.
“Hah…? Jam lima? Jam lima lagi, bener jam lima? Oooooh tidak!!!Aku kaget tenyata bangun jam dua hanyalah khayalan di alam mimpi, aku tertunduk dan merenggut rambutku karena rasa kecewa, terjatuh dalam lubang yang sama dari sekian kalinya.
Aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu karena belum salat shubuh, aku berjalan dengan sedikit tergesa-gesa karena kecewa.
“Tidaaaaak….! Jam lima lagi jam lima lagi …aaaaakh.” Teriakku sambil menampar pipi. Teman- teman yang membangunkanku terasa heran melihat tindakanku yang aneh.
Setelah shalat, aku langsung siap-siap sekolah karena sekarang hari senin, aku berangkat dengan sahabatku namanya Fauzi Ramdhani. Sambil makan roti aku berbincang-bincang dengannya.
“Syahdad kamu ini orangnya kocak, dibangunin, eh malah teriak-teriak gak jelas,” kata Fauzi sambil tertawa lucu.
“Ya elaah, gak paham kamu mah, tau gak aku ini sedang mengejar target,” balasku kesal.

“Target? Kok malah malah marah sih?” Tanya temanku itu.

“Nih Fauzi aku beritahu kamu ya, hemmm,” jawabku sedikit ragu.

”Kamu tahu gak, keutamaan tahajjud?” Tanyaku serius.

“Tahajud itu dapat meningkatkan derajat dan juga shalat yang lebih utama setelah salat fardhu,”
jawab jelas Fauzi.


“Tapi ada selain itu lho, tau gak? Nii yah aku kasih tau kamu, kalau kita melaksanakan tahajud niatnya hanya karena Allah, kita akan mendapatkan empat jaminan dan janji Allah yang hanya Allah berikan untuk orang yang bangun pada malam hari dalam shalatnya,” jawabku jelas.
“Waaah apa itu? Ayo bagi dong, aku jadi penasaran nih,” tanya Fauzi penasaran.

“Aku jawabnya sesuai firman Allah ya, dalam qur’an surat Al-Isra ayat 79 sampai 81, yaitu…” Aku terdiam melihat ke kaca, mobil terhenti, ternyata sudah sampai di sekolah.
”Aaaah sudah sampai, nanti aja yah dilanjut,” belum sampai aku jelaskan, aku harus hentikan obrolan ini.
“Ah kamu ini, eeeh tunggu aku, maen tinggalin aja,” kata Fauzi sedikit tergesa gesa.

Waktu terus berjalan, detik cepat berlalu, lambaian pohon menari-nari, menjadikanku termenung tertawa, birunya langit oh indahnya mentari, mengajakku mengingat illahi.
Pembelajaran hari ini ada pelajaran pak Arif, kebetulan aku bisa bertanya mengenai masalahku dalam mengejar target, tak tahu apa yang salah pada diriku, apakah aku terlalu banyak dosa sampai aku susah bangun? Atau mungkin ini, ini salah kasur, ia betul, ia terlalu membuatku nikmat dalam tidurku, sehingga aku nyaman dengan godaan setan, tapi mungkin gak ya? Agar lebih jelas akan aku tanyakan pada pak Arif.
Di sekolahku, sebelum pembelajaran itu ada jadwal tahfidz, pagi ini aku sangat semangat dalam setoran hafalanku, entah mengapa hari ini aku merasa bahagia.
“Assalamu’alaikum, pengumuman untuk hari ini pak Arif tidak masuk, tugasnya merangkum bab
5 halaman 98,” jelas Fauzi.

“Hah pak Arif tidak masuk? Oh kacau, ah aku gak jadi bahagianya,” sahutku kaget, hatiku galau tak karuan mendengar kabar bahwa pak Arif tak masuk sekolah.
Ketika masuk waktu istirahat, aku pergi ke kantin bersama Fauzan kakak kelasku, melanjutkan curhatanku yang telah aku ungkapkan ketika tadarus bersama di aula.


“Zan, gimana solusinya?” tanyaku jelas,”apa mungkin ini bukan salahku yah, mungkin ini salah, salah, salah…” aku hentikan sejenak.
“Salah siapa?” Tanya Fauzan.
” SALAH KASUR…” jawabku lantang, membuat Fauzan terperanjat kaget.

“Innalillah...hah salah kasur, haahahahaha,”sahut Fauzan tertawa terbahak bahak.

”Ya bukanlah kamu ini ngaco, Kasur disalahin, yang ada kamu yang salah, seenaknya tidur di kasur empuk, bantal empuk pasti juga kau dihangati oleh selimut tebal, belum lagi kalo kamu perhatikan secara teliti, kamu pasti membuat pulau di bantal kamu kan? Seharusnya kamu jangan tidur di tempat yang membuat nyaman dalam tidurmu,” lanjut Fauzan.
“Tapi kan...” jawabku ragu.

“Gini Syahdad, Rasulullah saja tidur beralas bantal pelapah kurma yang keras, untuk apa? Ya untuk bangun pada malam harinya, sedangkan kamu, terlalu nikmat dalam mimpimu,” jawab Fauzan tegas.
“Tapi kalo kamu memang sudah terbiasa bangun sendiri, dimana pun kamu tidur, bagaimana pun keadaannya, kamu pasti bangun,” lanjut Fauzan serius.
“Tapi Zan aku suka baca surat As-Sajdah sebelum tidur, agar malamnya bisa bangun, itu juga aku
dengar dari ceramah seorang ustadz,” kataku sambil menikmati gurihnya gehu.

“Oh gitu? Coba kamu amalkan sunah yang mungkin belum kamu ketahui, setelah kamu baca surat As-Sajdah, coba ambil wudhu lalu salat witir dan kau minta sama Allah, agar senantiasa membangunkanmu,” jelas Fauzan memberiku amalan sunah yang belum kuketahui dan aku akan mencoba melaksanakannya.
Fauzan cukup memeberiku solusi dalam memperbaiki masalahku, mulai malam ini aku tekadkan dalam hati untuk tidak tidur di atas kasur, tidak akan pakai bantal, tidak pakai guling apalagi si kain tebal pembungkus tubuh. Entah mengapa kali ini aku tak suka barang-barang itu, mereka semua penipu, emang nikmat tapi sementara, yang dapat menjebakku kala aku terlelap, sampai datang setan berkerumunan untuk menghambat pendengaranku kala azan berkumandang dengan air kencingnya yang ghaib.


Dalam gelapnya langit, terangnya bulan, terdengar sayup percikan air hujan, menjadikan hati tenang menuju alam hayalan. Gerlap gemerlip ekor kunang-kunang, teringat halaman rumah yang telah kukenang.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 20:15, setelah piket aku beranjak untuk tidur agar bangun di awal waktu, aku lakukan amalan sunnah sebelum tidur, yaitu membaca surat As- Sajdah lalu salat witir sesuai apa yang disarankan kakak kelasku.
“Ya Allah, bangunkan aku bagaimanapun caranya, aku berlindung padamu dari godaan kasur
dan kawan kawannya.”

Aku berhenti sejenak. ”A’udzubillahi min fitnati Kasur wafitnati guling wafitnati selimut,”do’aku
lanjut, belum banyak mufrodat yang kuhafal, jadi aku pake bahasa Arab seadanya.

Setelah berdo’a, aku tidur di atas lantai dengan alas hanya sarung dan tumpukan baju sebagai bantal, tapi tidurku sangat lelap, aku tak tahu apa yang kulakukan saat tidur.
Setelah lamanya waktu tidurku, aku hanya ingat satu kejadian, aku masuk kamar, lalu kuambil buku novel dan aku membacanya di atas kasur dengan mengenakan celana pendek, tanpa disadari, tiba-tiba datang dua ekor kecoa berjalan menuju kasurku, tapi aku tidak menghindar, padahal aku phobia terhadap kecoa, dengan fokus membaca novel karangan Tere liye, kecoa itu berjalan ke arah kakiku dan berhenti di kedua lututku, yang satu di kanan dan satu di kiri, aku geli tapi tak peduli, lalu kecoa itu berjalan bersamaan sampai masuk ke dalam celanaku.
Aku…aku baru ingat, oh tidak…tidak, aku sedang memakai celana dalam bapakku, bentuk dan warnanya sama, tapi beda ukuran, ketika pulang aku salah bawa, karena celana dalamku belum aku cuci, terpaksa aku pakai punya bapakku, jadi celana dalamnya…Celana dalamnya…
LONGGARRR…!!! bagaimana kalau kecoanya, oh GAAWAT…!!! sudah terasa, terasa geli, geli.

TIDAAAAAK…!!!

“Aaaaah, Ummi, ummi Cucunguuuuuk,” teriakku, aku terbangun ketakutan dan meloncat-loncat sampai terasa kepalaku terjedut.
“Aww sakit, AAAAA… mana kecoanya, mana mana,” aku kepanikan.


Lalu kunyalakan lampu kamar, aku panik, kubuka celanaku, tapi belum sampai kubuka, aku memakai celana panjanng, aku tak jadi membukanya, aneh…rasanya tadi aku memakai celana pendek, aku terdiam sejenak, aku melihat kasurku berantakan, aku rasa sebelum tidur kasurnya rapi, tapi… oooh… ternyata ini semua mimpi, alhamdulillah hanya mimpi, aku sedikit tenang. Dalam pikiranku hanya satu. Aku mencari jam tanganku.
“Masya Allah, Syahdad, bener jam dua? Ah mungkin ini mimpi lagi…mimpi bukan? Mimpi bukan?” Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, sambil menampar kedua pipiku, tapi yang terasa sakit kepalaku, oh iya, tadi kan aku kejedut, tapi aku senang kantukku sudah hilang, rupanya ini cara Allah membangunkanku, hati ini terasa bahagia.
Aku beranjak mengambil wudhu, lalu kuambil mushaf kecilku, aku berjalan menuju mushola untuk salat tahajjud.
Aku berjalan santai, lalu sedikit kencang, aku berlari kecil dan aku berlari secepat-cepatnya, sambil memikirkan hadist Rasulullah SAW bahwa jika seorang hamba merangkak menuju Allah, maka Allah dengan berjalan menghampirinya, jika hamba itu berjalan, maka Allah berlari menghampirinya, jika hamba itu berlari, maka Allah melesat secepat kilat.
Aku sangat semangat dan sungguh bahagia, walaupun ketika datang ke mushola, aku mengucapkan salam dengan nafas tak terkendali.
“Assalamu’alaikum….” Salamku sambil tersenyum lebar, hening dan sepi tak ada orang, tapi aku yakin Allah telah mendahuluiku dan telah hadir beribu-ribu malaikat yang akan menemaniku kala aku bersimpuh bermunajat pada-Nya.

Bukan Salah Kasur Bukan Salah Kasur Reviewed by Ahsanulqurun on January 25, 2020 Rating: 5

1 comment

Post AD

home ads